Ditulis oleh Dante rk    Jumat, 11 September 2009 21:45    PDF Cetak E-mail
Imagine

Imagine there's no heaven, it's easy if you try

no hell below us, above us only sky

Imagine all the people, livin' for today....

Di bagian awal lagu ini, John lennon menggugah secara metaphor tentang pandangan dasar kita terhadap dogma tertua dari semua agama. Sering kali kita mendengar istilah surga dan neraka, neraka atau surga, salah atau benar, dosa atau pahala....secara sadar atau tidak hal ini akan membuat kita hidup dengan dibayangi oleh ketakutan terhadap apa yang terjadi kelak – Surga atau neraka ?

Pemahaman yang sarat dengan unsur dualisme membuat kita tidak lagi hidup untuk hidup, kita hanya hidup untuk menyenangkan Tuhan dari agama yang kita peluk. Imagine, all the people livin' for today, seandainya semua orang yang ada di dunia dapat untuk sejenak menanggalkan dogma tentang Surga dan Neraka, tentang apa yang benar dan yang salah dan menyadari bahwa yang ada di atas hanyalah langit biru tidak berawan dan tanah yang subur di bawah kita, apa yang kira-kira bakal terjadi ?

Imagine there's no countries, it isn't hard to do

nothing to kill or die for and no religion too

Imagine all the people, livin life in peace

Di sini, kembali John lennon mengulas tentang inti keberadaan kita sebagai manusia. Sesungguhnya kita semua adalah satu bagian kesadaran yang tidak akan pernah dapat terpisahkan. Masing-masing dari kita hakikatnya adalah kebenaran-kebenaran kecil yang merupakan bagian dari kebenaran yang lebih besar, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Namun kenyataannya , sebagian besar dari kita sama sekali tidak memahami hal ini dan cenderung untuk tersesat lebih jauh dan lebih dalam lagi ke sebuah ilusi yang berpandangan bahwa terdapat perbedaan yang sangat besar dan mendasar di antara kita, antara diri anda dan saya, antara anda dan keluarga anda, antara anda dan teman-teman anda, antara anda dan manusia-manusia lain yang hidup di dunia ini, perbedaan itu begitu besar sehingga ahkirnya menciptakan sebuah realita yang keliru dan membuat kita semakin menjadi makhluk individualistis dengan wawasan yang begitu kerdil. Lantas, apa yang terjadi ? Batas negara diciptakan, agama dibuat....hingga ahkirnya membuat kita semakin terkotak-kotak dalam tatanan masyarakat majemuk yang begitu terobsesi dengan perbedaan. Imagine, apabila kita semua kembali menyadari bahwa kita semua sebenarnya adalah satu, kita semua adalah bagian dari bagian yang lebih besar lagi....apa yang bakal terjadi apabila batas negara dihapuskan, dimana tidak ada lagi perbedaan antara kita dengan yang lainnya, apabila kita menyadari bahwa apa yang kita berikan atau perbuat untuk orang lain tidak akan pernah hilang karena hakekatnya kita memberikan hal itu kepada diri kita sendiri ?.......

Imagine there's no possesion, i wonder if you can

no need for greed or hunger, a brotherhood of man

imagine all the people, sharing all the world

Di dalam dunia yang sudah teracuni oleh ilusi pemahaman individualisme yang kental , konsep kebendaan dan hak milik materi menjadi hal yang sangat penting. Kembali lagi, kita menciptakan sebuah tatanan sistem ekonomi yang justru semakin memperbesar jurang perbedaan di antara kita. Masyarakat majemuk dipilah-pilah dan terbagi ke dalam kelompok kaya dan miskin, mampu dan tidak mampu, dimana dunia akan mempermudah kelompok kaya dengan semua sarana dan fasilitas, sedangkan yang kurang beruntung akan dipinggirkan, disisihkan dan tidak dapat mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak dasar mereka seperti hidup layak, pendidikan dan makanan yang cukup. Imagine there's no possesion, seandainya tidak ada kepemilikan dalam bentuk apapun, seandainya apa yang kita miliki adalah milik semua orang, apabila kita hidup untuk berbagi dengan orang lain, mungkin semua ketamakan, korupsi, kelaparan dan ketidakadilan akan sirna....Bayangkan, apa yang bakal terjadi apabila kita benar-benar hidup di dunia yang menyadari kebersamaan dan mau untuk berbagi......

You may say Im a dreamer, but im not the only one

I hope someday you join us, and the world will peace as one

Beberapa dari anda akan merasa bahwa John Lennon hanyalah seorang pemimpi yang tidak realistis. Namun, apakah realita ? Apa yang membedakan realita dengan ilusi ? Di dalam dunia relatif yang dibutakan oleh paham dualisme, apakah anda yakin persepsi anda tentang” apa yang seharusnya “ adalah yang paling benar ? Apakah anda yakin bahwa cara pandang anda terhadap dunia ini adalah yang paling hakiki ? Bukankah kebenaran sejati itu adalah Tuhan dan Tuhan adalah bagian yang lebih besar dari masing-masing kita ? Bukankah kita semua adalah satu ? Bukankah kita semua berjalan di bawah matahari dan bulan yang sama ? Apakah anda hanya dapat menerima kebenaran lewat dogma-dogma yang begitu terobsesi oleh perbedaan agama, suku, ras dan budaya di ambang batas negara ?

Dibutuhkan wawasan dan pikiran yang sangat terbuka untuk dapat membaca dan menerima pandangan yang saya ingin sampaikan di sini. Apabila anda merasa bahwa saya mengada-ngada dan sama sekali tidak realistis, bahkan menghujat kebenaran keyakinan anda karena bertentangan dengan dogma-dogma agama anda yang suci dan agung, .....anda tidak perlu mempercayainya. Lewat tulisan ini, saya sebagai seorang spiritualis sekaligus Tarot Instruktur hanya ingin untuk sedikit berbagi. Salah atau benar, diterima atau tidak adalah cerminan dari masyarakat dualisme – saya bukan bagian dari sistem itu meskipun saya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari anda.

This essay is dedicated to Amber, my spiritual mentor @ seattle, USA 2003

Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 18 Juli 2010 21:21 )