Ditulis oleh Administrator    Kamis, 18 Desember 2008 01:33    PDF Cetak E-mail
Menetralisasi Fenomena Beralih Agama

Adanya  persoalan  beralih agama yang disebabkan  dari berbagai faktor yang telah diuraikan di atas, maka selanjutnya  untuk menetralisasi keadaan  atau fenomena  tersebut diperlukan  solusi

Ada empat  (4) strategi  atau upaya-upaya yang  mengacu pada : a)      Penterapan metode-metode tentang keyakinan, pengalaman dan sikap  beragama. Artinya di dalam melaksanakan  aktivitas beragama hendaknya  dapat meyakini  ajarn-ajaran agama dan sekaligus  memahami. Untuk  mencari tujuan yang utama ini  dan dapat merasakan  serta lebih  yakin melalui suatu aktivitas  pengalaman  beragama. Pengalaman beragama sangat  mempengaruhi  emosi umat untuk  lebih meningkatkan  Sradha dan Bhakti atau spiritual yang telah ditekuni  secara rutinitas. Pemahaman terhadap agama diri sendiri sebagai agama  pilihannya hendaknya  benar-benar  dapat dipahami  dan dijadikan  peranan dalam  menjalankan hidup dalam kehidupan ini.

 

Tidaklah berhenti sampai  memahami agama  diri sendiri tetapi perlu mengetahui agama lain. Tujuannya  untuk tidak  mudah saling menjelek-jelekkan agama  satu dengan yang lain dan dapat menghambat  beralih agama.

Aloys Budi Purnomo, dalam tulisannya  pada  surat kabar Kompas tanggal 9 Nopember  2001,  dengan topik "Religious Literacy" dan Tantangan Pluralisme Agama. Dimana disebutkan bahwa  Religious Literacy adalah sikap   terbuka dan mengenal nilai-nilai agama lain. Singkatnya  Religious Literacy adalah sikap melak agama lain. Dengan melek agama lain  orang bisa  sungguh saling mengenal, saling  menghormati, dan menghargai, saling bergandengan,  saling menghormati dan menghargai, saling  mengembangkan dan  memperkaya  kehidupan  dalam sebuah persaudaraan  sejati antar umat beragama, apa pun agamanya.

b)        Pendidikan  Agama. Melalui  pendidikan  agama di sekolah-sekolah, di lembaga-lembaga formal maupun non formal, dari tingkat  rendah atau dasar  sampai tinggi. Penyelenggaraan kursus-kursus  agama dalam hal ini agama Hindu sangat dimungkinkan. Lewat pendidikan  agama baik  formal maupun non formal  sangat membantu  dan penting dalam  proses memahami  dan mengaktualisasikan nilai-nilai  atau ajaran-ajaran  agama. Dalam agama Hindu  ada disebut  dengan Dharma Yatra, Dharma Tula, Dharma Wacana dan yang lainnya adalah suatu cara   membiasakan diri  mendengar, melihat  dan melaksanakan  aktivitas agama dalam  beragama. Dalam pengisian rohani sejak kecil akan lebih mantap dan mencintai agamanya sendiri.

c)         Dialog Agama, adalah salah satu cara untuk mengatasi  konflik antar umat beragama. Melalui dialog  agama menimbulkan sikap  terbuka dan berani mengungkapkan persoalan-persoalan dan diharapkan  dapat mencapai jalan keluar. Perbedaan agama  telah terjadi akibat dari banyak agama  yang ada ditanah air tercinta ini.  Beda agama jangan sampai  terus menerus  menjelekkan  agama lain dan  menomorsatukan agamanya sehingga  dapat mempengaruhi umat lain untuk  beralih agama. Setiap persoalan  agama yang muncul hendaknya  dapat dilakukan dengan dialog  agama termasuk  dialog inter umat  beragama Hindu.

d)        Kembangkan  Nilai-nilai Budaya Bali. Nilai-nilai  leluhur itu dapat berfungsi  sebagai suatu  pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada  kehidupan  para warga masyarakat Bali. Seperti konsep ''Menyama Braya''  yaitu seluruh  orang Bali  adalah keluarga. Konsep segalak segilik saguluk, konsep  selunglung sebayantaka dan yang lain-lainnya yang bersumber dari agama Hindu dapat dijadikan  pegangan  dalam hidup bermasyarakat dan beragama.

e)         Perlunya  peningkatan  pembinaan dari lembaga  Hindu, dalam hal ini  Parisadha Hindu Dharma Indonesia.  Seperti apa yang tercantum dalam pola pembinaan  dengan pendekatan :  a) Dharma Negara, b) Dharma Agama,  c) Dharma tula,  d) Dharma Yatra,        e) Dharma  Sadhana dan f) Dharma Shanti.

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 18 Desember 2008 01:56 )