|
MAKNA GALUNGAN Om Suastiastu, Om Awighnam astu namo siddham, Terlahir sebagai umat Hindu Bali, telah berulangkali kita lalui Hari Raya Galungan. Telah berulangkali kita lalui ritual/upacara menjelang dan pada saat Hari Raya Galungan itu sendiri. Waktu ke waktu, tidak ada yang banyak berubah dalam pelaksanaannya, andaikan ada perubahan itupun karena pelaksanaan dan tempat merayakannya bukan di Bali. Menyimak dari perjalanan waktu, menyimak dari perilaku dalam kehidupan masyarakat, semestinya dengan perayaan yang sudah berlangsung sekian banyak kali, sudah semestinya ada perubahan dalam tatanan hidup kita sebagai umat. Tapi pada kenyataannya, kemerosotan moral semakin menjadi-jadi dengan berjalannya sang waktu, meskipun perayaan semakin meriah dilaksanakan. Apa yang bisa kita simpulkan dari hal ini? Apa makna perayaan kalau akhirnya tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik, tidak ada usaha untuk berbuat dan mendapatkan hal-hal yang positif? Sudah waktunya kita bercermin, berkaca dari realitas, berkaca dari kenyataan bahwa ritual yang sudah dilaksanakan hanya sekedar merupakan upacara yang menjadi suatu kewajiban, yang diwariskan turun temurun, dan hanya diikuti tanpa pengertian, tanpa mengetahui makna dan hakikat yang jelas dari ritual dan perayaan itu sendiri. Apakah ada yang salah, ada yang kurang dalam ritual itu, dalam perayaan itu? Jawabannya bisa ya bisa tidak. Mengapa? Dari segi perayaan dan ritual tidak ada yang salah dan tidak juga ada yang kurang. Dari segi makna, pemahaman, hakikat yang terkandung dalam perayaan dan ritual itu? Sangat kurang dan boleh dikatakan belum tersentuh. Apakah cukup kita menjelaskan kepada anak-anak kita bahwa perayaan Galungan adalah perayaan Kemenangan Dharma atas Adharma (Kemenangan kebaikan atas kejahatan)? Cukup? Jawabannya adalah belum dan tidak cukup. Penjelasan itu tidak boleh berhenti hanya sampai di situ, bila kita menginginkan generasi penerus yang lebih baik dan lebih mapan dalam pemahaman makna hari raya Galungan. Bila kita bisa menjelaskan lebih baik dari apa yang telah kita dapatkan sebelumnya, itulah salah satu Kemenangan kita melawan diri kita sendiri, melawan belenggu kebodohan. Mengapa demikian? Karena diri kita sendiri adalah musuh yang paling berat, susah diajak berdamai karena rasa keakuan yang cenderung selalu tinggi, selalu merasa benar karena membohongi diri sendiri. Karena kebodohan adalah awal dari perbuatan yang tidak baik (Adharma). Bagaimana orang bodoh bisa membedakan yang benar dan salah? Sudah saatnya Kemenangan-kemenangan itu kita raih. Sudah saatnya Galungan itu juga dirayakan di dalam diri (Buana Alit), tidak hanya kemeriahan di Buana Agung. Bagaimana memulainya dan kapan? Memulainya adalah dari diri sendiri dan saat ini juga. Mengapa harus menunggu nanti, mengapa harus melihat keberadaan orang lain? Kita tidak perlu mematut diri kepada orang lain. Lihat diri kita sendiri. Jadikan cermin, lihat segala sesuatunya, apakah kekurangan kita. Lepaskan egoisme. Begitu banyak pustaka yang bisa dibaca, bisa dipelajari dan dipahami. Dengan modal niat untuk berusaha berubah ke arah positif, pelajaran kesucian itu sangat mudah kita pahami, sangat mudah kita mengerti. Kebenaran itu diciptakan untuk menjadikan kemudahan, hanya saja karena pikiran duniawi yang masih kuat mencengkeram, kebenaran itu menjadi susah untuk digapai. Bukankah kita memiliki Panca Sradha yang bisa dijadikan landasan hidup. Bukankah kita memiliki Catur Marga untuk tuntunan hidup? Bukankah ada Catur Purusa Artha untuk azas kehidupan? Bukankah ada Mokshartam jagadhitam ya ca iti Dharma sebagai tujuan hidup? Apa arti dan makna semuanya? Apakah sekedar pengetahuan, sekedar kepercayaan agar kita diakui sebagai orang Hindu? Tentunya kalau hanya sekedar penjabaran tanpa pernah memahami isi dan maksudnya adalah NOL BESAR kalau kita memiliki keyakinan. Bila kita bisa memahami hakikatnya dan melaksanakannya dengan benar maka KEMENANGAN akan selalu kita raih. Sebagai landasan hidup, Panca Sradha memiliki arti yang sangat mendalam untuk diri kita sebagai MANUSIA. Kelima Sradha itu adalah landasan yang sangat kuat untuk kita bisa kembali bersatu denganNya. Cobalah lihat urutannya. - Percaya akan keberadaan Tuhan/Ida Sanghyang Widhi Wasa
- Percaya dengan adanya Atman/Roh
- Percaya dengan adanya Karma Phala
- Percaya dengan adanya Samsara/Punarbhawa/Reinkarnasi/kelahiran kembali
- Percaya dengan adanya Moksha
Percaya dengan keberadaan tuhan/Ida Sanghyang Widhi Wasa. Kita semua yakin bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah bersumber dariNya. Manusia dengan segala alam lingkungannya adalah ciptaanNya. Akan tetapi pada kenyataannya, kita sering melupakan bahwa semua yang di dunia ini adalah milikNya, karena Tuhan-lah yang menciptakan. Karena sifat-sifat Rajas dan tamas yang begitu kuat mengakar dalam diri, maka keyakinan itupun menjadi berkurang bahkan sirna. Sebaliknya bila kita benar-benar meyakini keberadaanNya, damai dan sejahteralah dunia ini. Jadi bila kita merayakan Odalan Gumi (sebagai contoh saja), itu adalah sebagai perwujudan dari Sradha yang Pertama, pengakuan kita akan keberadaanNya. Perayaan bersifat ritual, dalam keseharian maka sebaiknya kita selalu berpegang teguh pada Dharma. Rayakan Dharma setiap saat dalam diri kita Percaya dengan adanya Atman. Kita semua tahu bahwa Atman/Roh adalah percikan kecil dari Brahman. Karena adanya Atman/Roh, maka kita hidup, maka lingkungan makhluk hidup di sekitar kita hidup. Atman/Roh itu suci, tapi karena pikiran yang penuh kegelapan, Atman terkungkung dan pancaran sucinya terhalang oleh perbuatan kita yang tidak baik (asubhakarma). Berkuasalah sang pikiran yang mengendalikan badan dan indria kita. Bukan Atman yang mengendalikan badan dan indria kita. Karena pikiran yang gelap menjadikan kita tidak menyadari keberadaan Sang Atman dalam diri kita, orang lain, ataupun dalam tubuh makhluk yang lain. Percaya dengan adanya Karma Phala. Telah disampaikan tadi bahwa pikiran yang mengendalikan badan dan indria. Segala perbuatan yang tidak didasari oleh hati nurani tentunya akan berakibat tidak baik untuk diri sendiri dan juga untuk yang lain. Pikiran lebih banyak dikuasai oleh nafsu dan mementingkan diri sendiri. Bagaimana kita percaya dengan Karma Phala, apabila dalam setiap perbuatan kita tidak ada pertimbangan sebab akibat dan mengabaikan kata hati. Berarti kita tidak percaya dengan diri kita sendiri, tidak percaya dengan adanya Atman yang suci dalam diri kita. Percaya dengan adanya Samsara/Punarbhawa/Reinkarnasi/Kelahiran Kembali. Reinkarnasi sangat erat hubungannya dengan Karma Phala. Segala perbuatan kita, baik dan buruk menjadikan Karma Wasana kita pada kelahiran berikutnya. Begitu tersiksanya Sang Atman/Roh dengan perputaran Reinkarnasi, akibat perbuatan kita di masa lampau dan kini yang tidak sesuai dengan ajaran Dharma. Padahal kita tahu bahwasanya Atman adalah percikan kecil dari Brahman. Tentunya sebagai bagian dari Brahman, Atman semestinya bersatu kembali kepada sumbernya yaitu Brahman. Dengan cara Reinkarnasi, semestinya kita yang diciptakan sebagai manusia, memiliki Tri Pramana, sangat memungkinkan untuk bisa melepaskan diri dari proses kelahiran kembali. Hanya saja, godaan duniawi yang begitu kuat menyeret diri kita kepada perbuatan-perbuatan dosa, menjadikan kelahiran yang berulang-ulang bahkan sangat mungkin menjadikan kelahiran kita pada tingkatan makhluk yang lebih rendah dari manusia. Percaya dengan adanya Moksha. Perputaran reinkarnasi harus diputus bila kita menginginkan kebebasan abadi/Moksha. Bagaimana cara memutusnya? Mulailah untuk berbuat kebajikan. Dalam Catur Purusa Artha telah dijabarkan, segala sesuatu perbuatan didasarkan pada Dharma. Dharma dan Moksha adalah untuk kehidupan spiritual. Artha dan Kama adalah kehidupan duniawi. Untuk mendapatkan Artha dan Kama didasari oleh Dharma. Kehidupan duniawi dilandasi dengan spiritual berdasarkan Dharma, akan memberikan kebahagiaan lahir dan batin. Sebagaimana kita ketahui, semboyan Mokshartam Jagadhitam ya ca iti Dharma, berkaitan erat dengan Catur Purusa Artha. Bukan sekedar slogan, dan bukan sekedar penjabaran, tapi pahami dan lakukan. Ada 4 jalan telah dijabarkan untuk mendapatkan Dharma dan akhirnya untuk mendapatkan kebebasan yang abadi. Catur Marga, suatu penjabaran yang sangat kompleks dan berkesinambungan. Karma Marga dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, karena kita hidup dalam lingkungan masyarakat. Berbuatlah selalu kebajikan. Bhakti Marga, dilakukan dengan melakukan persembahyangan. Kita mengucap puji dan syukur atas karunia dan rahmat Ida Sanghyang Widhi Wasa yang selalu diberikan kepada kita. Karena kita yakin dengan adanya Brahman. Segala isi dunia ini adalah milikNya. Jnana Marga, dengan sering membaca kitab suci, tuntunan suci, mendengarkan petuah suci dari Guru Suci, itu semua bisa dilakukan dengan niatan suci. Luangkan waktu untuk memperdalam pengetahuan. Isi jiwa kita dengan pemahaman kesucian, agar keyakinan kita semakin tebal, agar jiwa ini tersiram oleh kesejukan kebenaran yang hakiki. Lakukan tapa, brata, dan yoga semedhi untuk pengendalian diri. Untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Brahman. Untuk mengikis sisi gelap dalam diri yang mengurung sang Atman, agar cahaya suci Atman terpancar dalam diri. Jadikan Atman yang mengendalikan diri kita, pikiran hanya pelaksana. Itulah Raja Marga, untuk mencapai kebebasan yang tertinggi. Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwasanya perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma selalu ada setiap saat dalam setiap langkah perbuatan kita. Begitu besar makna kemenangan itu, untuk mencapai kebebasan yang abadi (Moksha). Galungan bukan sekedar ritual/upacara, itu adalah suatu pembelajaran agar kita tidak sampai melupakan ajaran suci. Agar kita bisa membina generasi penerus kita, agar lebih yakin dengan apa yang telah diyakininya. Menjadi kewajiban kita semua, untuk menularkan Dharma kepada yang lain agar tercipta ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesucian, dan kebahagiaan. Jadikan perayaan hari suci untuk instropeksi diri, untuk bercermin diri. Wajah yang cantik dan tampan di dalam cermin, bertanyalah kepada diri kita, sudahkan kita berbuat yang cantik dan tampan dalam kehidupan ini? Om Santi Santi Santi Om Pekanbaru, 01.24WIB, 27 Nopember 2006 Disajikan oleh, I Gusti Nengah Sutartha
|