Artikel Anggota
Ditulis oleh I Gusti Nengah S    Selasa, 20 Juli 2010 01:02    PDF Cetak E-mail
PUJA, DOA, ATAU SUATU PERMINTAAN

PUJA, DOA, ATAU SESUATU PERMINTAAN

Puja selalu dilakukan dalam setiap kali persembahyangan. Apakah sebenarnya tujuan puja itu? Apakah Tuhan pernah meminta untuk disanjung dan dipuja? Apakah puja dilakukan hanya untuk memenuhi keinginan seorang manusia agar apa yang menjadi kehendaknya dikabulkan oleh Tuhan? Apakah puja yang dilakukan dengan pembacaan mantra-mantra suci akan didengar oleh-Nya? Apakah puja seorang yang bodoh dan tidak pernah belajar mantra suci tidak didengarkan oleh Tuhan?

Puja adalah sebuah pengakuan. Puja adalah pengakuan akan keberadaan-Nya. Puja tidak dimaksudkan untuk menyanjung, untuk menyenangkan Tuhan. Bagaimana kita tahu Tuhan senang disanjung, bagaimana kita tahu bahwa Tuhan senang mendengar puja kita? Puja adalah suatu penyampaian dari seorang umat kepada pencipta-Nya. Pengakuan atas berbagai sifat Maha yang dimilikinya, dengan berbagai manifestasi-Nya. Puja bukanlah perbuatan atau ucapan untuk memuji dengan suatu harapan bahwa Tuhan akan senang lalu kita diberkahi-Nya. Apakah sesederhana itu kita mengartikannya? Puja bukanlah sesuatu yang sederhana semudah kita mengucapkannya. Puja haruslah didahului dengan kebersihan hati dan pikiran. Puja memerlukan konsentrasi, memerlukan ketulusan, dan tidak dapat ditunggangi oleh pikiran-pikiran yang mengharap suatu pamrih. Puja adalah suatu persembahan. Puja yang murni dan suci adalah puja yang didasari oleh niat baik. Puja memerlukan pengorbanan, karena kita harus dapat mengekang hawa nafsu kita pada saat melakukannya, karena kita harus melepas segala keinginan duniawi, karena kita benar-benar mengakui keberadaan-Nya.

Puja adalah alunan lagu suci yang dinyanyikan oleh jiwa dari lubuk hati yang terdalam. Bagaimana dengan doa?

Kata doa selalu dihubungkan dengan suatu sikap yang dilakukan oleh seseorang untuk menyampaikan kehendaknya ke hadapan Tuhan. Dalam setiap doa selalu diawali dengan suatu keinginan, karena tanpa kehendak maka perbuatan itu tidak akan bisa dilakukan. Kehendak yang akan disampaikan dalam doa bisa jadi untuk kepentingan diri sendiri, keluarga atau kerabat, atau sesama dan lingkungannya. Doa itu tidak salah selama niatnya tulus dan didasari oleh itikad baik. Apakah doa itu selalu terkabul? Semuanya harus kita kembalikan kepada Sang Pencipta, karena disamping kita selalu untuk berusaha dengan melakkan Karma, segala sesuatunya telah ada garis karma yang melingkupi setiap insan manusia. Kita tidak pernah tahu Karma Wasana apa saja yang melekat pada diri kita, apalagi Karma Wasana yang ada pada diri orang lain.

            Apakah doa itu berarti sebuah permintaan kepada Tuhan? Bila dilihat dari kata-kata yang ada dalam kalimat doa, itu adalah suatu permintaan. Akan tetapi perlu disadari kembali bahwa doa yang benar adalah doa dari ketulusan hati dan dipenuhi dengan kebenaran dan welas asih. Bila doa itu dilakukan dengan penuh nafsu, dengan dilingkupi oleh Kama yang tidak terkendali dan hanya untuk kepentingan diri sendiri, maka itu adalah murni sebagai suatu permintaan.

Kesimpulan:

Puja itu wajib dan perlu kita lakukan sebagai suatu pengakuan yang tulus dari manusia sebagai makhluk ciptaan Brahman, mengakui ke-Esa-anNya. Doa itu juga perlu dilakukan, karena kita sebagai manusia penuh dengan kekurangan-kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Doa yang benar adalah doa dengan ketulusan hati, itikad baik yang didasari oleh hati yang suci.

Om Santi Santi Santi Om

Pekanbaru, 07.37WIB, 23 Agustus 2009

Oleh:

I Gusti Nengah Sutartha

Sekretaris PHDI Provinsi Riau