|
AKU ATAU “AKU” Apa yang harus dilakukan untuk si aku ini? Berbuat, berkata, dan berpikir sudah dilakukan setiap hari. Benar atau salah dari ketiga hal tersebut tergantung dari cara pandang kita atau tergantung hal-hal yang hanya merupakan pembenaran bukan kebenaran. Lalu, kebenaran yang sejati dimana? Terpikirkah untuk mendapatkan kebenaran yang sejati? Dimana letak kebenaran sejati itu, bagaimana kita mendapatkannya, bagaimana kita menjalankannya? Tanyalah pada diri kita sendiri. Diri kita sendiri yang mana? Inilah yang perlu untuk dikaji. Bagaimana kita bisa percaya pada diri kita sendiri sedangkan kita sendiri tidak tahu siapa diri kita yang sebenarnya. Ida Sanghyang Widhi Wasa telah menurunkan ajaranNya. Sebagai umat kita wajib menjalankan perintahNya. Kenyataannya, ajaran itu hanya untuk didengar, dibaca berulang-ulang, diartikan secara sepihak oleh orang yang menganggap dirinya suci dan lebih tahu dari yang lain, diperdebatkan dengan sesama umat hanya untuk sebuah popularitas, tetapi tidak mengerti hakikat ataupun inti sari ajaran yang dimaksud. Bukankah seharusnya ajaranNya itu diresapi, dicamkan, dihayati, dan dilaksanakan dengan berdasarkan hakikat yang terkandung dalam ajaran itu sendiri. Yang mana dimaksud dengan hakikat? Janganlah ajaran dan perintah yang telah diturunkanNya diartikan dan diterapkan secara kaku, pragmatis, dan dogmatis. Kesadaranlah yang diperlukan untuk melaksanakan ajaran dan perintahNya. Kesadaran tidak pernah memaksakan, tidak pernah merasa lebih dari yang lain, lakukanlah untuk diri sendiri, dan hargai apa yang diyakini oleh yang lain. Bukan mencemooh, dan benar-benar harus disadari bahwa yang telah diturunkanNya bukan untuk diperbandingkan, apalagi untuk dibuat perdebatan dengan kaca mata masing-masing mengakui kebenaran diri sendiri. Kita mulai dari yang dimaksud dengan hakikat hidup. Jangan pernah berpikir mengapa kita dilahirkan di dunia ini. Mengapa kita dan alam sekitarnya diciptakan? Pikiran tidak akan pernah sampai untuk menjelaskannya. Bila dipaksakan untuk berpikir, maka gelaplah semua sisi kehidupan ini. Mengapa? Karena kita akan mengingkari kekuasaanNya, mengingkari keberadaanNya. Apakah kita harus menerima begitu saja kenyataan ini? Saudaraku dalam lindungan kasih Ida Sanghyang Widhi Wasa, ingatlah bahwa manusia itu penuh dengan segala keterbatasan. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, manusia menjalani kehidupan ini. Untuk menuntun perjalanan mereka, diturunkanlah wahyu lewat orang suci. Kita harus sadari, bahwa wahyu yang disampaikan pertama kali oleh orang suci dalam perjalanan yang panjang dan dengan berbagai kepentingan dan polah manusia bisa jadi ada hal-hal kebenaran dari wahyu itu diselewengkan. Bukankah kalau demikian wahyu itu sudah tidak murni lagi? Kita tidak bisa mengatakan bahwa itu masih murni atau tidak murni. Akan tetapi dalam kehidupan ini tentu masih ada norma-norma yang masih harus kita pegang. Tentunya norma-norma yang dimaksud berlaku secara universal, bukan untuk sekelompok orang. Dengan norma yang ada tersebut kita berjalan sambil menumbuhkan dan membangkitkan kesadaran diri, kesadaran jiwa untuk mencari hal yang sejati. Selama kita berperilaku dalam ajaran cinta kasih, maka kesadaran akan arti hakikat hidup bisa kita gali dalam diri kita sendiri. Kita harus selalu instropeksi diri, lihatlah diri kita, sudah benarkah yang kita lakukan? Dekatkanlah diri padaNya, selalu, setiap saat, dimanapun kita berada, dalam kondisi dan posisi apapun kita bisa melakukannya. Bukankah di awal kita telah yakin bahwa kita ini adalah makhluk ciptaanNya, jiwa kita adalah bagian dari diriNya? Bila kita semakin dekat, maka kebahagiaan akan selalu menyelimuti kita, dan sebaliknya semakin jauh maka sengsara yang akan didapat. Jangan terbuai dengan kebahagiaan semu yang bersifat sangat duniawi yang semakin menjauhkan kita dariNya. Itu tidak kekal. Itu menjerumuskan. Sebagian dari hidup kita ini adalah untuk melayani. Mengapa demikian? Dengan selalu menebar cinta kasih dengan sesama dan juga makhluk ciptaanNya yang lain, itu adalah suatu pelayanan. Untuk melakukan itu kita harus bisa mengendalikan diri dari rasa marah, iri dengki, kebencian, dan sederetan lagi sifat-sifat jahat lainnya. Kita harus melepas ego kita. Kita bangun kesadaran dalam diri kita, dan itu berarti kita telah membangun juga sebagian Rumah Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam diri kita. Memang sulit untuk melakukannya. Hanya dengan penuh ketulusan dan kepasrahan diri kita bisa melakukannya. Tulus dan pasrah hanya dapat dilakukan bila semua ego mau kita lepaskan, kita benar-benar mau menyadari bahwa tanpa Dia, kita bukanlah apa-apa, dan Dia tidak pernah terpikirkan. Janganlah coba-coba untuk menganalisa, hanya kesesatan yang akan didapat. Analisa diri sendiri, analisa siapa “aku” ini, cari tahu siapa diri kita, dan jawabannya hanya ada bila kita dekat dengan Dia. Untuk mencapai mokhsartam bukan berarti kita harus mengucilkan diri di tempat-tempat sepi yang jauh dari keramaian. Dengan melihat perkembangan jaman yang ada sekarang ini, sungguh suatu hal yang naïf bila kita bepikir bahwa untuk mendekatkan diri kepadaNya kita harus memisahkan diri dari komunitas sosial kita. Tidak seperti itu. Bila kita mau kembali kepada hakikat filsafat kosong:”Kosong tapi berisi, berisi tapi kosong” demikian juga halnya kita harus bisa menempatkan diri kita dengan sesadar-sadarnya, Sunyi dalam Keramaian, Ramai dalam Kesunyian. Tapa, Brata, Yoga, dan Semadi dapat kita lakukan ditengah-tengah kehidupan social kita. Semua itu kembali kepada niat suci dalam diri kita, sejauh mana kita bisa mengikuti kata hati nurani. Kita tidak perlu berpaling dari lingkungan social kita, semua sudah ada dalam diri kita. Bukankah Buana Agung dan Buana Alit ini isinya sama? Dengan menyadari hakikat itu, maka senantiasa menjalani hidup dalam pelayanan Dharma adalah merupakan perjuangan besar untuk melepas tirani kegelapan yang menyelimuti Sang Atman dalam diri kita. Dan hal ini juga berarti melepas tirai kebodohan dalam pikiran kita. Dengan cara berpikir yang penuh keinginan duniawi, semua didasari atas pemikiran yang bersifat materi, tidak akan kita sadari bahwa begitu banyak perbuatan Adharma yang telah kita lakukan. Semua pengorbanan harus dihargai dengan materi. Berbuat baik kepada orang lain hanya untuk mendapatkan sesuatu yang menguntungkan diri sendiri, entah itu nama baik ataupun harapan-harapan bahwa perbuatan baiknya akan mendatangkan pahala yang lebih baik lagi. Tindakan seperti ini sangatlah sesat, sungguh keliru. Kita percaya dengan Hukum Karma Phala, tetapi bukan berarti kita hanya berbuat kebajikan untuk mendapatkan pahala. Dalam doa yang diingat hanyalah permohonan yang semata-mata untuk memenuhi keinginan duniawi. Perbuatan seperti ini sangat tidak benar. Secara materi mungkin kebahagiaan sudah didapatkan, akan tetapi sejatinya kebahagiaan bathin tidak sama sekali. Mengapa? Karena pikiran masih terikat dengan harapan-harapan. Bagaimana keseimbangan antara moksha dan jagadhita bisa berjalan harmonis? Sangat timpang, karena sudah terlepas dari rel hakikat kehidupan. Dengan selalu memohon ampunanNya, dengan selalu instropeksi diri, dalam cinta kasih Ida Sanghyang Widhi Wasa, maka ajaran sejati akan muncul dan tumbuh dengan subur. Kita akan tahu siapa diri kita sebenarnya, dan kebenaran yang sejati. Tidak ada kebenaran atau pembenaran-pembenaran yang lain. Dengan keyakinan bahwa kita bersumber dari satu sumber yang sama, niscaya ketulusan terhadap sesama akan berkembang. Karena kita sadar bahwa kita adalah sama. Hanya perbuatan kita selama hidup yang membedakan. Om namo Siwaya, semoga semua umat manusia menyadari hal ini, sehingga ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesucian, dan kebahagiaan kita nikmati bersama. Om namo Siwaya, Om namo Siwaya, Om namo Siwaya. Om Ḉanti Ḉanti Ḉanti Om Pekanbaru, 01.25WIB,18 Oktober 2005
Penulis, I Gusti Nengah Sutartha SAJAK BUAT BERCERMIN PIKIRAN MUDAH DIPUTARBALIKKAN KARENA DAPAT DIKENDALIKAN SETAN KATA HATI JANGAN DIMUNAFIKKAN AKAN KAU DAPAT ANUGRAH KENIKMATAN DI SAAT HIDANGAN ADA DI HADAPAN TEPIKIRKAH ADA YANG LAIN BELUM MAKAN? MAKAN BUKAN UNTUK SUATU KENIKMATAN SADARLAH BAHWA MAKAN UNTUK KESEJAHTERAAN TELAH BANYAK TUHAN BERFIRMAN TAPI MANUSIA MASIH ADA TIDAK BERIMAN BAGAIMANA AKAN KAU LIHAT KEHIDUPAN TIADA SADAR TELAH DIBERI KENIKMATAN BUATLAH KEBAIKAN SEBANYAK KAU DAPAT TANPA HARUS BERPURA-PURA BAIK TUHAN AKAN SELALU MELIHAT YANG KAU BUAT MAKA JANGAN BERPIKIRAN LICIK TIADA BEDA ENGKAU DAN AKU KITA BERSUMBER DARI YANG SAMA TIADA USAH MERASA LEBIH TAHU HANYA MEMBUAT DERITA SESAMA AJARAN SUCI ADALAH BEKAL KESADARAN ADALAH KUNCINYA BAHAGIA BATIN ADALAH KEKAL KITA HARUS MENYADARINYA Pekanbaru,01.45, 18 Oktober 2005
Penulis, I Gusti Nengah Sutartha
|