|
Olah Meditasi Untuk Mendekatkan Diri Kepada Sang Pencipta, Menemukan Diri Sejati, Mencapai Kebebasan Om Awighnam Astu namo siddham (semoga semua dalam keadaan baik atas karuniaNya) Om Swastiastu (semoga selalu dalam keadaan selamat lindunganNya) Sebelum memulai olah meditasi, ada baiknya diketahui terlebih dahulu makna dan tujuan dari Meditasi tersebut. Hal ini perlu untuk diketahui, karena yang menjadi dasar dari pelaksanaan Meditasi tersebut adalah tetap pada Hakikat yang terkandung dalam intisari ajaran Agama Hindu sebagaimana telah kita ketahui bahwa tujuan akhir dari apa yang kita yakini itu adalah untuk mencapai Mokshartam Jagadhitam ya ca iti Dharma (mencapai kebahagiaan lahir/dunia dan batin/akhirat.. Meditasi adalah merupakan wujud dari empat jalan kebenaran atau yang biasa disebutkan sebagai Catur Marga Yoga. (empat jalan untuk mecapai Kebenaran). Dengan olah Meditasi, diharapkan ke-empat jalan tersebut akan bisa berjalan beriringan sehingga kebahagiaan lahir dan batin akan terjadi keseimbangan. Ke-empat jalan tersebut di atas bersifat saling menunjang dan tidak terpisahkan. Dengan menerapkan Karma Marga Yoga (mencapai jalan kebenaran dengan selalu berbuat baik/dharma) dalam kehidupan sehari-hari, maka kita sudah berlaku sebagai makhluk social yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Kita tidak bisa terlepas dari kehidupan bermasyarakat. Selalu berbuat baik atau kebajikan berdasarkan Dharma (Kebenaran) adalah merupakan sikap terpuji, akan tetapi dengan itu saja masih ada jalan yang belum kita tempuh. Mengapa? Berbuat baik dengan sesama itu adalah merupakan sisi hidup duniawi saja, belum mencakup keberadaan kita dalam kehidupan mokshartam (batin). Jadi masih belum terjadi keseimbangan. Untuk menunjang sisi Mokshartham (Kebahagiaan Batin/Akhirat), maka kita perlu menunjukkan wujud keimanan kita kepada Tuhan yaitu dengan melakukan Bhakti (persembahyangan). Berarti kita harus melanjutkan juga untuk menempuh jalan Bhakti atau Bhakti Marga Yoga. Bhakti Marga Yoga adalah merupakan wujud dari keimanan kita dengan melakukan persembahyangan ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Kita tunjukkan rasa Bhakti kita kehadapanNya dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, tiada keraguan sedikitpun karena kita yakin dengan keberadaanNya. Dengan melakukan Karma yang baik dan melakukan Bhakti yang tulus ikhlas, itu sudah merupakan suatu hal yang baik. Akan lebih baik lagi apabila kita bisa mengerti dan mengetahui lebih jauh terhadap apa yang kita yakini. Pengetahuan suci adalah merupakan kuncinya. Pengetahuan suci didapatkan dengan menjalankan Jnana Marga Yoga (mencapai jalan Kebenaran dengan mendalami Ajaran Suci/Ketuhanan). Pengetahuan Suci bisa didapatkan dari tuntunan dan ajaran yang disampaikan oleh Guru Suci, Pendeta Suci, dan juga ajaran-ajaran suci yang termuat di dalam Kitab Suci. Pengetahuan Suci akan lebih membuka wawasan kita tentang ke-Tuhan-an, membimbing dan menuntun kita untuk lebih mengerti makna dan hakikat ke-Tuhan-an. Dengan Tuntunan Suci kita akan menuju kepada Pemahaman yang lebih mendalam, berpikir lebih bijaksana, dan keimanan yang lebih tebal. Sampai disini telah 3 langkah kita lalui, akan tetapi masih belum tercapai kesempurnaan. Dengan banyak mendengar dan membaca pengetahuan suci tanpa kita melakukan instropeksi diri ke dalam, pengetahuan suci tersebut hanya akan tersimpan dalam pikiran tanpa kita dapat meresapi lebih jauh makna dan hakikat dari ajaran suci yang terkandung di dalamnya. Ajaran Suci tidak bisa disamakan dengan ilmu pasti ataupun ilmu sosial yang lebih mengedepankan rasio, realitas, dan asumsi-asumsi. Ajaran Suci adalah merupakan suatu kebenaran yang sifatnya universal, dapat dimaknai dalam kehidupan dengan rasa, dengan hati nurani. Ajaran Suci bukan merupakan suatu pembenaran-pembenaran yang dimanfaatkan sesaat untuk mendapatkan suatu kepentingan. Ajaran Suci bersifat hakiki, merupakan kebenaran yang mendalam sesuai dengan hati nurani yang bersih. Suatu hal yang perlu ditekankan adalah bahwasanya Ajaran Suci tersebut dihayati dan diamalkan tanpa suatu paksaan dan tidak kaku. Kita harus menyadari bahwa cara berpikir, kemampuan menelaah, dan pembawaan Karma itu sangat berpengaruh terhadap masing-masing individu. Ajaran Suci itu sangat indah, tidak untuk ditakuti sebagai suatu hukum yang mempunyai harga mati. Kita sebagai manusia memiliki keterbatasan untuk menilai diri sendiri, apalagi menilai orang lain. Lalu, apa yang bisa dilakukan dengan pengetahuan suci dan ajaran suci itu. Jalan yang ke-empat yaitu Raja Marga Yoga (mencapai Kebenaran dengan Jalan Olah Batin) adalah merupakan kunci jawaban yang terakhir. Telah diutarakan tadi bahwa ajaran suci itu harus diresapi, dan mendalam sampai dalam hati nurani karena kebenaran ada di dalam lubuk hati, bukan dalam benak atau pikiran. Untuk menjalankan Raja Marga Yoga, diperlukan suatu latihan dan kemauan yang tulus. Mengapa? Meditasi yang berhasil adalah meditasi yang mencapai kondisi Semedi. Meditasi diawali dengan pengendalian pikiran yang berarti juga mengendalikan ego. Mengendalikan pikiran walau hanya sejenak adalah merupakan suatu pekerjaan berat. Tidak setiap individu dapat melakukan hal tersebut setiap saat, sehingga perlu dilakukan latihan dan olah diri sedemikian hingga kita terbiasa untuk membaca dan mengendalikan arah pikiran kita sendiri. Kondisi Semedi didapatkan dengan pengendalian pikiran yang maksimal, dibarengi dengan sikap berpasrah diri di hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Kondisi Semedi sama dengan kondisi NOL. Panca Indrya masih berfungsi, pikiran terkendali, dan hanya ada rasa yang bisa dirasakan oleh jiwa, bergetar, gerakan-gerakan badan ataupun anggota badan yang dikendalikan oleh jiwa bukan pikiran, rasa panas atau dingin melalui ubun-ubun atau tangan, pancaran sinar/cahaya suci yang hanya bisa dilihat lewat Mata Siwa (titik di antara kedua kening/alis), dan berbagai macam pemandangan Spiritual lainnya yang penuh dengan makna kesucian. Seharusnya kita menyadari kembali bahwa Yadnya (Kurban Suci) yang Terbesar itu adalah Pengorbanan Diri. Pengorbanan Diri dalam hal ini jangan diartikan secara kasar, karena arti yang terkandung didalamNya adalah bahwasanya kita ini adalah ciptaanNya, kita ini adalah merupakan bagian dari Dia. Dengan memahami benar bahwa kita diciptakan olehNya dan akan kembali juga kepadaNya, maka sikap berpasrah diri baru dapat dilakukan. Sebaliknya apabila kita masih terbebani oleh sikap yang sok kuasa dan merasa memiliki kelebihan-kelebihan, maka sampai kapanpun hakikat dari Meditasi itu tidak akan tercapai. Kita harus kembali kepada kondisi NOL. Hanya dengan itu kita akan berhasil untuk merasakan hawa/aura suci yang dihadirkan olehNya. Sebelum melakukan meditasi, kita wajib melakukan persembahyangan. Dengan melakukan persembahyangan yang sungguh-sungguh, kehadiran sinar suci dari Yang Maha Kuasa akan terasa menyelimuti badan kita. Kasih SayangNya yang berlimpah akan melindungi kita. Hal-hal pokok yang perlu untuk diingat pada waktu kita bersembahyang adalah : 1. Memohon ampunan-Nya (kepada Parama Siwa), atas segala dosa yang kita perbuat. 2. Memohon Sinar Suci-Nya (kepada Parama Siwa) untuk melebur segala kotoran yang ada dalam jiwa dan raga kita 3. Memohon Tuntunan Suci-Nya, Pengetahuan Suci-Nya (kepada Sada Siwa/Bapak Angkasa/Sanghyang Aji) untuk dapat menjalankan Dharma (Kebenaran) dalam kehidupan, sehingga dapat terlepas dari belenggu Kebodohan/Awidya, dan mendapatkan kebijaksanaan 4. Memohon Perlindungan-Nya dan KekuatanNya (kepada Ibu Pertiwi), karena kita begitu lemah, tiada daya, dan Kuasa itu adalah MilikNya, agar terhindar dari hal-hal negatif 5. Memohon kepada Diri Sejati agar Sang Atman (Roh) yang terbelenggu dalam kegelapan dapat terlepas/bebas dari kegelapan yang menjeratnya untuk dapat mencapai Mokshartam Jagadhitam (mencapai kebebasan dan kebahagiaan lahir dan batin, terlepas dari segala pengaruh duniawi) Kembali kepada perihal Meditasi, suatu sikap awal yang perlu dilakukan adalah membuang segala beban pikiran. Kalau kita berniat untuk sembahyang, jangan lagi memikirkan segala aktivitas yang baru saja dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tujukan pikiran kita untuk menghadap Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Lepaskan rasa takut, lepaskan rasa sedih, lepaskan rasa gembira yang berlebihan. Tenang, tanpa beban, pasrah, sadar bahwa kita ini tiada berarti apa-apa di hadapanNya. Kita ini kecil, hanya setitik embun di dalam samudera yang luas, benar-benar tiada arti. Bila kita bisa menyadari hal itu, dengan keikhlasan yang kuat, niscaya Meditasi yang dilakukan akan mencapai hasil yang baik dan sampai pada tingkat SEMEDI. Sekali lagi perlu ditekankan, bahwa dengan Meditasi dan Semedi kita bertujuan untuk mendapatkan tingkat Spiritual dalam Kesucian, Menemukan Diri Sejati (Atman Sejati), dan lebih dekat lagi kepada Ida Sang Parama Kawi sebagai segala sumber kehidupan, dan pada akhirnya mencapai tingkat Mokshartam kembali bersatu kepada Sang Parama Atman (Sang Khalik/Tuhan Yang Maha Esa). Spiritual dalam Kesucian adalah tingkat Spiritual yang didasarkan pada kesucian batin, kebenaran yang sejati sebagai pengetahuan yang tiada batas, tingkat kesadaran yang tinggi sebagai wujud pengendalian diri. Diri Sejati adalah Sang Atman yang ada dalam badan kita yang merupakan percikan suci dari Sang Parama Atma (Sang Pencipta sebagai sumber dari segala ciptaanNya), memiliki sifat-sifat yang sama dengan sumbernya, terbelenggu oleh Awidya sebagai akibat dari perbuatan dosa yang dilakukan oleh badan kasarnya. Mokshartam adalah tingkat pencapaian dari Spiritual Kesucian pada titik tertinggi dengan tercapainya kebebasan dari segala pengaruh maya atau duniawi. Demikianlah sedikit gambaran yang bisa kami sampaikan terkait dengan dasar-dasar Meditasi dan hakikat dari Meditasi itu sendiri, semoga dapat berguna bagi umat se-Dharma (se-Iman). Semoga pengetahuan yang sedikit ini bisa membantu, dengan segala keterbatasan yang kami miliki masih ada secercah harapan untuk dapat menjadi lebih baik. Om Santi Santi Santi Om (semoga semua dalam keadaan damai) Pekanbaru, 29 Oktober 2005 Disampaikan oleh, I Gusti Nengah Sutartha TAHAP PELAKSANAAN MEDITASI 1. Membersihkan Diri Bersihkan badan dengan mencuci tangan, kaki, dan muka, basahi sedikit rambut agar terasa lebih segar atau percikkan Tirtha Penyucian 3 x (air suci) di kepala dan basuh muka dengan tirtha. Rasa segar di badan sangat mendukung untuk proses pelaksanaan persembahyangan dan meditasi. Bila badan sedang berkeringat atau kotor, sebaiknya keringkan dan bersihkan dulu. 2. Pengaturan Nafas/Pranayama Ambil sikap bersila yang sempurna, kaki kanan bertumpu pada paha sebelah kiri, posisi punggung tegak, sehingga dada membusung tegak. Posisi ini sangat berguna untuk: - memudahkan pengambilan nafas, mengalirkan nafas dari hidung ke dada lalu ke perut, menahan nafas, dan menghembuskan nafas - menguatkan pinggang pada posisi bersila sehingga tidak mudah ambruk Pada saat melakukan olah pernafasan/pranayama, ucapkan dalam hati kata “OM” berulang-ulang. Setelah posisi bersila terasa nyaman, mulai mengambil nafas sebanyak-banyaknya untuk bisa mengisi rongga dada. Agar pengambilan nafas bisa lancar dibantu dengan gerakan kedua tangan diangkat ke atas perlahan sehingga rongga dada terbuka sepenuhnya. Turunkan kedua tangan perlahan mencakup di ulu hati, dan tahan nafas. Alirkan udara dari rongga dada ke perut, konsentrasi dan rasakan udara mengalir dari dada ke perut, konsentrasikan di pusar. Tahan semampunya dan nikmati energi yang berputar di perut. Buang nafas perlahan lewat mulut sampai terasa udara dalam badan terhembus habis. Lakukan lagi pengambilan nafas. Ulangi gerakan di atas sampai terasa badan hangat dan berenergi, serta alunan nafas terasa lembut dan tenang. Dengan kondisi badan yang berenergi dan penuh ketenangan, sudah siap melanjutkan langkah berikutnya. 3. Melakukan Persembahyangan Lakukan Persembahyangan dengan melaksanakan Tri Sandhya/Panca Sembah. Melakukan persembahyangan sebelum melangkah ke Meditasi dimaksudkan untuk: - membangun hubungan spiritual kesucian dengan Sang Pencipta dalam wujud Bhakti - membangun lingkaran energi positif untuk melindungi diri dari hal-hal yang bersifat negatif atas lindungan-Nya Hal-hal pokok yang perlu untuk diingat pada waktu kita bersembahyang pada intinya adalah : Ø Memohon ampunan-Nya (kepada Parama Siwa), atas segala dosa yang kita perbuat. Ø Memohon Sinar Suci-Nya (kepada Parama Siwa) untuk melebur segala kotoran yang ada dalam jiwa dan raga kita Ø Memohon Tuntunan Suci-Nya, Pengetahuan Suci-Nya (kepada Sada Siwa/Bapak Angkasa/Sanghyang Aji) untuk dapat menjalankan Dharma (Kebenaran) dalam kehidupan, sehingga dapat terlepas dari belenggu Kebodohan/Awidya, dan mendapatkan kebijaksanaan Ø Memohon Perlindungan-Nya dan KekuatanNya (kepada Ibu Pertiwi), karena kita begitu lemah, tiada daya, dan Kuasa itu adalah MilikNya, agar terhindar dari hal-hal negatif Ø Memohon kepada Diri Sejati agar Sang Atman (Roh) yang terbelenggu dalam kegelapan dapat terlepas/bebas dari kegelapan yang menjeratnya untuk dapat mencapai Mokshartam Jagadhitam (mencapai kebebasan dan kebahagiaan lahir dan batin, terlepas dari segala pengaruh duniawi) Dengan melakukan persembahyangan yang benar, didasari oleh keikhlasan hati untuk menghadap kepadaNya, senantiasa kita akan selalu dalam lindungan Kasih Sayang-Nya. Kita tidak perlu khawatir terhadap hal-hal yang bersifat negatif, karena kita telah berserah diri sepenuhnya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Dengan iman yang kuat, dengan keyakinan yang kuat, tidak ada kekuatan yang mampu untuk mengganggu hubungan spiritual suci kepada-Nya yang kita bangun. Keragu-raguan, tidak yakin, dan tidak pasrah, hal inilah yang sering menghambat kemajuan spiritual seseorang. Spiritual tidak akan muncul pada orang yang penuh dengan keraguan. Keraguan akan mudah disusupi oleh hal-hal negatif yang muncul dari pikiran yang gelap, terbawa halunisasi kekhawatiran terhadap diri sendiri. Sinar suci tidak akan pernah tampak pada pikiran yang penuh kegelapan. Sinar suci hanya tampak oleh orang yang dapat berserah diri kepada-Nya. Ucapan kata OM yang bergema dari dalam lubuk hati memiliki kekuatan yang luar biasa, dan itu hanya dapat dilakukan apabila kita mengucapkannya dengan penuh keyakinan, 4. Meditasi Setelah melakukan persembahyangan, tetap ambil sikap duduk bersila sempurna. Posisi badan tegak, dimaksudkan agar aliran cakra dari tulang kemaluan dan Api Kundalini (pusat energi positif yang ada dalam setiap tubuh manusia yang masih hidup) dari tulang ekor dapat mengalir ke atas dengan sempurna untuk selalu mengarah ke Siwa Duara. Tetaplah tenang, bernafas seperti biasa. Posisi tangan mencakup di ulu hati atau telapak tangan menghadap ke atas diletakkan di atas paha. Ucapkan kata “OM” (aksara suci untuk Tuhan Yang Maha Esa) dengan lembut berulang-ulang. Posisi mata terpejam. Konsentrasikan pikiran di tengah-tengah alis (Mata Siwa) untuk dapat mengendalikan pikiran dengan sempurna. Dalam berkonsentrasi agar jangan tegang, tenang, dan nikmati. Ingat!!!, dengan berkonsentrasi jangan sampai lupa bernafas, karena bisa mengganggu konsentrasi dan stamina dengan berkurangnya oksigen di dalam badan. Bernafaslah seperti biasa. Jangan membayangkan sesuatu, apalagi hal-hal yang bersifat negatif. Ingatlah selalu, kita sedang menghadap kepada-Nya, sesuatu yang tak terpikirkan. Jangan takut, Ida Sanghyang Widhi selalu bersama kita, beliau selalu melindungi umat-Nya. Setelah benar-benar bisa mengendalikan pikiran, ucapkan “OM” di dalam hati saja. Jangan membayangkan sesuatu karena tidak ada yang perlu dicari dengan suatu pembayangan, konsentrasi pada uacapan “OM” (aksara suci Tuhan) yang terdengar dalam hati. Pasrahkan diri, karena tidak ada yang harus dilawan. Ida Sanghyang Widhi Wasa selalu melindungi kitadengan lingkaran Kasih Sayang-Nya. Apabila masih belum tercapai konsentrasi, lakukan pernafasan lagi secukupnya agar mendapatkan ketenangan kembali dan energi atau kekuatan yang lebih baik. Konsentrasi memerlukan tenaga/energi yang cukup besar. Lakukan meditasi dengan jangka waktu yang bertahap. Untuk pemula, 10 - 15 menit sudah cukup. Yang paling penting adalah penguasaan diri dulu. Selanjutnya apabila sudah terbiasa dapat dilakukan 30 menit sampai lebih, dan semua itu tergantung kepada diri kita sendiri. Sekali lagi ingat dengan makna dan hakikat dari Meditasi dan Semedi. Meditasi bukan mengosongkan pikiran, tapi mengendalikan pikiran. Pikiran yang kosong akan mudah dimasuki oleh bayangan-bayangan semu yang bangkit dari memori pikiran. Semedi adalah tercapainya klimaks dari Meditasi pada kondisi NOL karena terjadi keseimbangan antara Buana Alit (badan) dengan Buana Agung (Alam) pada kondisi Panca Indria masih tetap aktif. Pada kondisi Semedi, kendali terhadap badan sudah terambil alih oleh Roh/Atman, bukan pikiran lagi. Pikiran tetap sadar karena Panca Indria masih aktif. Pada kondisi Semedi, Mata Siwa mulai berfungsi, kundalini mulai aktif, demikian juga Cakra-cakra yang ada dalam tubuh bergerak karena ada energi dari Api Kundalini. Semua bergerak pada posisinya masing-masing. Kekuatan api Kundalini sangat tergantung dari kondisi fisik seseorang dan juga terpengaruh oleh Karma dari orang yang bersangkutan. Kondisi fisik seseorang yang dimaksud adalah kondisi kesehatan dan jenis makanan yang dikonsumsi. Fisik yang sedang sakit akan relatif susah untuk berkonsentrasi. Orang yang suka makan daging dan jarang atau bahkan tidak pernah berpuasa juga akan susah untuk berkonsentrasi. Jadi puasa sangat berpengaruh juga terhadap kemajuan olah Meditasi seseorang. Hal ini bisa dibuktikan dan dirasakan pada saat kita berpuasa dan tidak berpuasa. Pada saat berpuasa, perut dalam kondisi kosong dan kita sedang mengendalikan diri terhadap nafsu makan. Dengan pengendalian diri ini, secara tidak langsung juga mempengaruhi kendali terhadap pikiran. Disamping itu kondisi perut kosong yang dilandasi oleh niat suci berpuasa menjadikan pikiran lebih tenag, lebih sabar, tidak terburu nafsu. Pada saat kita tidak berpuasa apalagi ditambah dengan banyak makan daging, kondisi perut penuh karena lambung dan usus bekerja keras untuk mencerna, pikiran lebih mudah tersulut oleh emosi dan tidak tenang. Hal ini akan sangat dirasakan oleh seorang Pemula yang baru belajar Meditasi. Terkait dengan Karma, adakalanya seseorang Pemula dalam tempo singkat sudah mendapatkan pengalaman Spiritual. Hal ini tidak bisa disamakan anatar orang yang satu dengan lainnya. Dengan Karma Wasana yang baik, ditambah dengan berpuasa, maka olah Spiritual yang bersangkutan akan sangat cepat mencapai kemajuan. Kita harus menyadari hal ini, dan kita tidak boleh mematut-matut diri dengan orang lain terhadap kemajuan Spiritual yang didapatkan. Kemajuan spiritual sesorang hanya dinikmati oleh dirinya sendiri, jadi tidak bisa dibanding-bandingkan. Setiap orang membawa Karma Wasananya masing-masing. Sangat bijaksana apabila kita berpikir untuk mendapatkan kemajuan Spiritual dengan melakukan Sembahyang dan Meditasi sesering mungkin dibantu dengan Puasa. Dengan mematut diri hanya akan menimbulkan kedengkian dan iri hati sehingga tujuan semula tidak akan tercapai dan kita semakin tertinggal dalam kehidupan Spiritual. Dengan mengumbar Meditasi dalam waktu yang lama tanpa bisa berkonsentrasi dengan benar karena pikiran masih menerawang dan melayang kemana-mana dan juga masih ada rasa aku yang kuat tidak akan ada artinya. Hal ini malah menguras energi yang besar tanpa hasil. Setelah berhenti melakukan Meditasi, buka mata perlahan-lahan, dan jangan langsung berdiri. Ucapkan “Om Santi Santi Santi OM” (semoga semua dalam keadaan damai) untuk mengakhiri Meditasi. Ambillah sikap yang tenang, usapkan tangan di muka. Setelah kondisi benar-benar normal kembali, baru boleh berdiri. NB. Sebagai tambahan, untuk menunjang keberhasilan Meditasi ada baiknya ditunjang dengan melakukan Upawasa (Puasa). Puasa dapat dimulai dengan mengambil hari Purnama dan Tilem. Apabila sudah terbiasa, dapat ditamah dengan melakukan puasa Senin dan Kamis. Pelaksanaan Puasa yang baik, dimulai dari jam 20.00 sampai jam 20.00 esok harinya. Untuk Pemula, puasa ditutup sampai jam 16.00 dulu, setelah terbiasa baru dilanjutkan penuh 24 jam. Manfaat puasa terhadap pencapaian Meditasi pada hakikatnya adalah pengendalian diri. Disamping itu, dengan kondisi badan yang bersih, akan lebih peka untuk menangkap getaran-getaran Suci dari Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Kemampuan ini akan mendorong pencapaian Spiritual Kesucian yang lebih baik, karena pengendalian ego semakin berhasil. Upawasa termasuk salah satu pengorbanan diri, hanya saja hal ini harus didasari oleh niat yang suci. Tanpa niat suci, maka Upawasa yang dilakukan akan tidak berfaedah untuk kehidupan Spiritual. Pekanbaru, 29 Oktober 2005 Disampaikan oleh, I Gusti Nengah Sutartha
|