Artikel Anggota
Ditulis oleh I Gusti Nengah S    Selasa, 20 Juli 2010 00:46    PDF Cetak E-mail
Menemukan Diri Sejati

Berpasrah Diri menemukan Diri Sejati

 

Om Awighnam Astu,

 

            Saudara-saudaraku se-Dharma, pada malam hari ini, dalam ketenangan dan keheningan yang dihadirkanNya, marilah kita bersama-sama untuk meresapi, menghayati berbagai perihal kehidupan yang begitu penuh dengan HAKIKAT. Kita semua tahu bahwasanya perjalanan sang waktu dalam kehidupan ini begitu singkat. Sebagian besar waktu kita banyak terbuang untuk menikmati buaian tidur, tanpa pernah terbersit bahwasanya dalam hidup ini begitu banyak yang belum kita tahu, begitu banyak yang belum kita temukan. Kita tidak sadar begitu terbatasnya kita sebagai manusia, begitu bodohnya kita menyikapi kehidupan yang telah dianugrahkan kepada kita. Manusia sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia, memiliki Sabda, Bayu, dan juga Idep. Sudahkah kita pergunakan anugrah itu dengan sebaik-baiknya?

 

            Dalam perjalanan hidup ini, sudahkah kita berbuat sesuai dengan Swadharma kita sebagai manusia? Apa yang telah kita perbuat, apa yang telah kita persembahkan kepada Sang Pencipta? Hanya dosa dan dosa, kesalahan dan kesalahan yang telah banyak kita perbuat. Hanya secuil yang telah kita persembahkan, kita kurbankan untuk Sang Parama Kawi. Padahal kita tahu bahwasanya begitu banyak yang telah Tuhan berikan kepada kita. Tapi kenyataannya kita hanya mengeluh dan mengeluh, selalu kurang. Tiada pernah kita sadari bahwa Rajas dan Tamas begitu berkuasanya pada diri kita.

 

Kita lebih banyak menyalahkan keadaan, lebih banyak menyalahkan orang lain, dan pada akhirnya menyalahkan Sang Pencipta. Tidak pernah terpikirkan bahwa Ida Sanghyang Widi Wasa adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Berbagai kekeliruan, berbagai dosa telah dibuat, tapi Beliau tidak pernah menghukum. Kita lah yang tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih. Azab dan derita bukanlah hukuman dariNya. Kitalah yang selalu bermuka dua. Pada saat kita berjaya, kita selalu lupa kepada Sang Pencipta, dan sebaliknya ketika penderitaan datang kita katakan itu adalah Hukuman. Sungguh keliru penilaian seperti itu.

 

            Saudara-saudaraku se-Dharma, marilah kita mencoba untuk melihat lebih jauh ke dalam diri kita. Untuk apa? Untuk sesuatu yang begitu banyak kita belum tahu, belum kita sadari, dan untuk bisa menjadi lebih baik. Mari kita bertanya pada diri kita, siapakah AKU ini? Dengan pikiran kita akan menjawab bahwa kita ini adalah manusia, ciptaan Tuhan. Apa hanya itu? Yah, roh yang ada dalam badan kita adalah percikan atau bagian kecil dari Parama Atman. Sadarkah kita bahwa Parama Atman begitu suci, begitu Agung? Kalau kita adalah bagian dari Dia, mengapa kita nodai dengan pikiran-pikiran bodoh, dengan perkataan-perkataan yang tidak senonoh, dengan perbuatan-perbuatan yang asusila? Akhirnya Sang Atman dalam diri kita terbelenggu, terikat erat oleh sifat-sifat maya duniawi yang kita hadirkan dalam diri kita sendiri. Pikiran yang dibalut oleh sifat iri, dengki, dendam, dan kebencian yang mendalam telah kita pelihara. Perkataan-perkataan yang kotor, tidak sopan dan tidak senonoh, fitnah, begitu subur dipupuk untuk meludahi Sang Atman. Perbuatan-perbuatan yang asusila, yang jelas-jelas dilarang oleh norma agama begitu kuatnya mengikat Sang Atman. Semuanya hanya untuk memenuhi NAFSU yang tidak terkendali. Lalu dimana keimanan kita? Seberapa jauh kita yakin dengan keberadaanNya?

 

            Kalau sudah demikian, sudahkah kita sadar dengan semuanya itu? Sadar yang bagaimana, sadar itu harus dengan ketulusan hati. Bukan hanya sekedar di mulut lalu kita gembar-gemborkan bahwasanya kita adalah orang yang telah sadar dan selalu berbuat baik. Bukan itu. Kesadaran itu tidak terlepas dari badan kita. Dia ada dalam lubuk hati yang paling dalam, dalam nurani kita. Dia tidak bisa dinilai oleh orang lain, diri kitalah yang tahu, dan Tuhan dengan HukumNya yang akan menilai. Sudah sepatutnya kita sebagai makhluk ciptaanNya melaksanakan ajaran-ajaranNya yang telah diturunkan lewat Orang Suci. Selalu berusaha dan berusaha berbuat Kebajikan. Jangan pernah puas berbuat baik. Berbuat Dharma itu tiada batasnya, pikiran kitalah yang terbatas.

 

            Saudara-saudaraku se-Dharma, ketahuilah bahwasanya Dharma itu kita lakukan sepanjang hayat kita. Tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Dengan kejernihan hati, dengan berpasrah diri sepenuhnya pada saat kita menghadap kepadaNya, niscaya sinar suci dari Ida Sanghyang Widhi Wasa akan hadir menyinari badan kita yang penuh dengan Lumpur dosa dan kegelapan, menyinari jalan kita menuntun kepada Kebenaran Yang Sejati.

 

            Dalam Catur Marga Yoga, kita telah diajarkan untuk bisa melaksanakan Dharma. Ada 4 jalan yang telah ditunjukkan dan selayaknya kita sebagai umatNya menjalankan ke-empat-empatnya. Yang pertama, dalam hidup ini kita harus selalu berbuat Kebajikan. Itu masih belum cukup. Kita juga harus berbakti dengan selalu melakukan persembahyangan. Dua hal ini juga masih belum cukup. Kita juga harus bisa memaknai, mengerti dengan Hakikat ajaran-ajaranNya lewat pengetahuan Dharma, pengetahuan tentang Kesucian. Dan pada akhirnya kita bisa berpasrah diri sepenuhnya, menghadap kepada yang Kuasa dengan pehuh keikhlasan, menyatukan cipta, rasa, dan karsa kepada yang Esa. Tidak ada kata sulit untuk melakukannya, semua berpulang kepada niat suci kita untuk melaksanakannya. Pengorbanan diri adalah Yadnya yang paling besar. Dengan berpasrah diri, kita telah siap berkurban. Hanya dengan itu kita bisa menemukan Diri Sejati. Hanya dengan itu kita bisa menemukan Sinar SuciNya.

 

            Mulailah kehidupan Suci. Resapi makna “Mokshartam Jagadhitam ya ca iti Dharma”. Jadikan hidup penuh dengan keseimbangan. Begitu banyak ajaran Suci yang telah diturunkan, janganlah hanya dijadikan pengetahuan, janganlah hanya dijadikan obrolan. Semua itu perlu diamalkan. Brahman ada dalam diri kita, Dia selalu dekat dengan kita. Tingkatkan keimanan kita untuk mendapatkan hidup yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan.             

 

 

 

“Om Namo Siwaya, badan kami penuh dengan kotoran dosa. Pikiran kami penuh dengan kegelapan dan kebodohan. Hamba mohon ampunanMu. Hamba mohon tuntunanMu. Hamba mohon kehadiran sinar suciMu, untuk melebur segala Dosa yang ada dalam jiwa dan raga kami. Hamba mohon Sinar Pengetahuan Sucimu, agar terang pikiran hamba dari belenggu kegelapan dan kebodohan. Hamba mohon tuntunanMu. Begitu Kuasanya Engkau ya Siwa, dan begitu lemahnya kami ini. Hamba mohon lindunganMu, hamba mohon kekuatanMu. Hanya dengan KuasaMu semua Engkau jadikan dan terjadilah. Om Parama Atman, bangkitkan Atman kami yang tertidur lelap. Lepaskan Atman kami dari belenggu maya yang menyakiti Jiwa kami. Sadarkanlah kami untuk menuju Mokshartam Jagadhitam ya ca iti Dharma. Om Namo Siwaya, Om Namo Siwaya, Om Namo Siwaya.”