Artikel Anggota
Ditulis oleh I Gusti Nengah S    Selasa, 20 Juli 2010 00:33    PDF Cetak E-mail
Berkarma Baik Tanpa Batas

BER-KARMA BAIK TANPA BATAS

                “Rame ing gawe sepi ing pamrih”, slogan itu begitu melekat pada diri kita sebagai orang Hindu. Banyaklah berbuat baik tanpa pernah berpikir dan berharap suatu balasan. Niscaya dengan begitu kita akan selalu mendapat karuniaNya tanpa pernah terpikirkan dan kita sadari. Untuk melaksanakan slogan itu dalam kehidupan sehari-hari, tidaklah mudah untuk memulainya. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui sehingga kita terbentuk untuk bisa melepas ego atau rasa keakuan menuju perbuatan baik yang tanpa pamrih.

                Hal pertama yang perlu dilakukan adalah instropeksi diri, melihat diri kita sendiri, mengkaji diri kita sendiri, sudah sejauh mana telah berbuat Subhakarma. Sebagai orang awam, tentunya kita berpatokan pada norma-norma yang berlaku umum di masyarakat dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Hindu. Suatu kebiasaan-kebiasaan yang sudah lazim dan umum, dan setiap orang mengakui bahwa itu adalah perbuatan baik.

                Setelah instropeksi diri, cobalah heningkan pikiran, jernihkan dari segala aktivitas rutin sehari-hari. Bicaralah pada diri sendiri, bahwasanya masih banyak sekali hal-hal kebaikan yang belum kita perbuat selama menjalani hidup ini. Kenyataannya memang demikian. Selama hayat dikandung badan, selalu ada hal-hal kebaikan yang belum sempat kita perbuat, tidak ada batasan untuk berbuat baik, bagaikan menuang garam di laut, air laut tidak akan berubah rasa asinnya menjadi lebih asin.

                Sungguh sangat membahagiakan apabila kita semua mampu untuk menerapkan perbuatan Subhakarma yang didasari oleh jiwa yang hening, bebas dari keakuan, dan berbuat untuk kebaikan bagi semua umat. Perjalanan hidup masih panjang dan tidak ada yang tahu kapan kita harus kembali pulang bersatu dengan Brahman. Mengapa kita sia-siakan waktu dengan banyak berdebat, dengan banyak berharap suatu pamrih, dengan berharap banyak hal duniawi yang tidak akan pernah terpuaskan?

                Sebagai bagian dari umat, sebagai makhluk ciptaan Brahman, sepantasnya kita menyadari bahwa sebagian dari hidup kita adalah untuk melayani. Ber-karma baik itu adalah suatu pelayanan. Kita akan ikut berbahagia bila bisa menyenangkan orang lain. Hal ini tentu dibatasi oleh perbuatan Dharma. Slogan “Tat Twam Asi” adalah salah satu dasar untuk ber-Karma Baik. Engkau adalah Aku, Itu adalah Kamu juga, bagaimana kita mengingkari makna dan filosofi dari slogan itu? Suatu slogan yang sangat sederhana untuk diucapkan, tapi memiliki arti yang sangat mendalam, baik dalam arti pada kehidupan sosial umat dan juga sebagai diri sendiri/individu yang memiliki pertanggungjawaban karma langsung kepada Brahman.

                Kehidupan sosial menjadikan kita berinteraksi dengan umat lain. Masing-masing individu membawa karma-nya masing-masing dalam pergaulan hidup. Pembauran telah menjadikan antara umat yang satu dengan umat lainnya terikat dalam suatu ikatan karma. Ikatan karma yang terjadi kembali kepada diri kita masing-masing apakah karma yang kita lakukan itu berakibat baik ataukah buruk terhadap yang lain. Apabila kita melupakan Lima Pegangan Dasar yaitu Panca Sradha sebagai umat Hindu, sudah barang tentu akan terjadi pembauran sosial yang berakibat pada perbuatan Karma yang tidak baik/buruk dan akan menimbulkan konflik dan polemik, yang pada akhirnya mengantarkan kita pada ketidak damaian baik lahir maupun batin dan berdampak buruk juga terhadap umat yang lain. Disinilah terjadi simpul atau ikatan karma yang terjadi tanpa disadari karena pengaruh Awidya, kegelapan yang menyelimuti hati nurani. Awidya muncul karena sifat-sifat Rajas dan Tamas yang tidak terkendali, terpupuk dengan baik oleh ke-AKU-an. Ini adalah suatu pengertian yang sederhana, dan hanya perlu sedikit pemikiran, rasio, dan logika.

                Kembali kepada Panca Sradha, lima hal mendasar yang begitu diyakini oleh umat Hindu merupakan hal pokok yang telah dijabarkan dengan sempurna adalah merupakan suatu urutan yang terkait dengan segala hal yang menyangkut keberadaan kita sebagai ciptaan Brahman, sebagai makhluk yang mampu untuk melakukan suatu perbuatan baik atau buruk karena mempunyai kelebihan untuk berpikir. Atman adalah merupakan percikan kecil dari Parama Atman. Sebagai manusia kita terbentuk dari badan kasar dan badan halus yang menjiwainya yaitu Atman.

                Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, umat yang satu dengan umat yang lainnya terjadi interaksi karena pergaulan sosial. Dari pergaulan sosial ini muncul karma-karma yang bisa jadi merupakan karma baik ataupun karma buruk. Karma yang buruk sudah pasti akan menibulkan dampak buruk terhadap diri sendiri dan juga umat yang lain. Rasa dendam akan semakin mengikat diri kita pada suatu ikatan karma, sehingga pada akhirnya kita akan terjun pada proses Punarbhawa/Reinkarnasi/lahir kembali karena masih ada ikatan karma yang belum putus. Proses ini akan berjalan terus selama Awidya masih mendekam dalam hati nurani karena tidak ada keinginan untuk memperbaiki diri untuk mencapai tingkatan spiritualitas yang lebih baik. Lalu, apa artinya slogan Mokshartam Jagadhitam ya ca iti Dharma?

                Adalah suatu hal yang mustahil Mokshartam Jagadhitam akan tercapai apabila ikatan karma yang kuat tidak berusaha untuk dilepaskan. Keinginan duniawi begitu kuat membelenggu diri karena hendak memuaskan nafsu semata. Belenggu duniawi yang kuat pada akhirnya hanya akan menurunkan derajat kehidupan sebagai manusia menjadi makhluk yang tidak mampu menggunakan pikiran. Sungguh menyedihkan kehidupan seperti itu. Mengapa kita tidak berusaha memutus tali Karma? Mengapa kita tidak berusaha untuk memaknai hidup dengan saling menjaga, saling menghargai dan menghormati, saling membantu untuk mendapatkan kehidupan spiritual yang berlandaskan Dharma? Mengapa kita biarkan diri kita terseret arus kehidupan yang melempas dari Panca Sradha?

                Sebagai umat Hindu, hendaklah kita tidak sekedar meyakini, sekedar hafal susunan dan arti Panca Sradha, tetapi lebih dari itu maknailah dengan benar, lakukan Karma Baik untuk melepaskan diri dari ikatan karma dan Siklus/Perputaran Punarbhawa untuk mencapai Moksha. Kejarlah kehidupan spiritual yang suci sebagai landasan untuk bisa ber-Karma Baik. Ber-Karma Baik bukan untuk mendapatkan pamrih, tapi jauh lebih dari itu yaitu untuk mencapai tujuan Kebebasan Diri yang berlandaskan Dharma.

Segala sesuatu haruslah dilandasi oleh Dharma, itu sudah sangat jelas dalam agama Hindu. Sebagai manusia yang biasa-biasa saja kita tidak bisa terlepas dari kebutuhan Artha. Untuk hidup perlu sandang dan pangan. Akan tetapi semua itu haruslah didapatkan dengan berlandaskan Dharma. Kama atau keinginan tidak sekedar sebagai sarana pemuas nafsu duniawi, haruslah berlandaskan Dharma. Sungguh indah, sungguh damai kehidupan ini apabila semua didasari oleh Dharma. Dengan begitu kehidupan yang bebas dari segala ikatan duniawi akan tercapai, tujuan agama akan tercapai. Semua itu bisa didapatkan bila kita mau ber-Karma Baik, tidak pernah bosan/puas berbuat baik.

Sebagai akhir kata, marilah kita bersama-sama untuk merenung sejenak, kita berdoa mohon anugrahNya, agar terbuka hati nurani kita, untuk mencapai kehidupan suci.

“Om namah Sivaya, Om namah Sivaya, om Namah Sivaya. Ya Tuhan atas nama Siva, kami mohon ampunanMu, begitu banyak dosa yang kami perbuat, begitu hina dan papa diri kami, hanya kepadaMu kami memohon. Tuntunlah kami di jalan Dharma, tunjukkan jalan kebenaran, hapuslah kegelapan dan kebodohan dalam diri kami. Tiada arti kami di hadapanmu oh Siva, kami begitu lemah tanpa daya, lindungilah kami, berikanlah kami kekuatan untuk melaksanakan Dharma. Dengan sinar suciMu, lepaskanlah Atman kami yang terbelenggu tali Awidya, agar Atman kami bisa bersatu kembali denganMu, agar tercapai Mokshartam Jagadhitam ya ca iti Dharma. Om namah Sivaya, Om namah Sivaya, om Namah Sivaya. Om Santi Santi Santi Om”

 

Pekanbaru, 31 Maret 2007