Tutup
 
 
 
 
 
 

BALI MEDITATION & YOGA SITE - TUNTUNAN MEDITASI ONLINE - CAKRA - KUNDALINI YOGA -   JNANA YOGA - AURA

Top Panel
Horoscope
Top Panel

Kata ’yoga’, ‘yogi’ begitu popular di masyarakat. Apa sesungguhnya makna kata tersebut? Kata ‘yoga’ digunakan dengan berbagai pengertian. Istilah ‘yoga’ ( bahasa Sansekerta) berasal dari akar kata ‘yuj’ berarti ‘menghubungkan’. Dalam konteks ini,... » lanjut

Meditasi Tejasurya, salah satu jalan menyatukan diri dengan Atman atau alam semesta, guna lebih mengenal kesadaran dan jati diri. Teja Surya mnyinari seluruh lapisan dalam diri. Untuk mengetahuinya perlu kita merenungi dan menyadari diri sendiri. Dari sinilah awal ....» Lanjut

CAKRA berarti perputaran energi atau pusat aliran energi dalam bentuk roda / cakram. Berputarnya roda energi menimbulkan Pusaran energi, pusaran energi yang terbentuk akan di alirkan ke alat-alat organ dalam pada tubuh fisik kita melalui nadi yang sangat halus (meridian). Cakra-cakra ini letaknya pada tubuh etheris dan bersesuaian dengan organ dalam pada tubuh fisik. » Detail...

Secara spiritual Manusia mempunyai tubuh yang dibedakan menjadi dua bagian yakni tubuh fisik dan tubuh Halus. Kedua tubuh ini selalu bersatu dimana tubuh fisik merupakan wadah atau tempat bagi tubuh halus yang berlapis lapis. Tubuh halus yang membuat tubuh fisik dapat hidup adalah Tubuh Atman (Roh Suci).  » Detail...

Mawinten Cetak E-mail

Mawinten adalah salah satu  upacara dalam manusa yadnya. Mawinten berasal  dari kata “winten” (inten), adalah nama permata berwarna putih  yang mempunyai sifat mulia, dapat memancarkan sinar  berkilauan  yang menyenangkan hati para peminat serta pemiliknya.

   Mawinten  adalah upacara untuk  penyucian diri secara lahir dan batin. Secara lahir bertujuan untuk mensucikan  diri dari  mala atau  kotoran yang berada dalam dirinya  sedangkan  secara batin  adalah bertujuan untuk memohon  penyucian diri dari Sang Hyang Widhi  Wasa, agar diberikan wara nugraha dalam mempelajari ilmu  pengetahuan  yang bersifat suci seperti kesusilaan, keagamaan dan selanjutnya dapat mengamalkan ajaran-ajaran  tersebut baik untuk diri maupun untuk orang lain.

            Sebelum melaksanakan upacara  mawinten, yang  bersangkutan sebelumnya  melaksanakan  upacara “pangidep hati”, yang bertujuan agar dalam belajar  selanjutnya mendapatkan tuntunan kearah yang lebih terang. Mengenai batas  umur pelaksanaan  upacara pengidep hati ini diberikan waktu  dapat dimulai dari umur 5 tahun atau setelah tanggal gigi pertama.

            Keyakinan  umat Hindu terhadap  ajaran gamanya, khususnya terhadap sradha samsara yaitu menjelma atau lahir kembali, bertujuan untuk menebus dosa yang masih tersisa akibat karma pala pada   kehidupannya yang telah silam. Menjelma kembali, adalah suatu kesempatan untuk  memperbaiki kesalahan-kesalahan, sehingga akhirnya dapat mencapai kesempurnaaan hidup sesuai dengan tujuan agama Hindu, yang tersebut dalam  Weda yaitu “Mokshartam Jagad Hita Ya Ca Iti Dharmah”,  yang maksudnya  untuk mencapai kesejahteraan  lahir dan batin. Secara lahir, dilaksanakannya upacara “pangidep hati” untuk  pengendalian diri atas tuntunan indriya dan pikiran. Secara batin, pawintenan itu dilaksanakan dengan upacara. Upacara adalah rangkaian  kegiatan  manusia  untuk menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, untuk memohon kerahayuan.

            Semua  upacara-upacara tersebut, ditujukan  kehadapa Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya, karena Hyang Widhi Wasa diyakini sebagai penyelamat dalam kehidupannya, sesuai dengan  ucap tuntunan pustaka suci Reg Veda VI, sloka 47.11. yang  dinyatakan sebagai berikut :

            Tra tāram indram avitāram indram,

            Have have suhavam sūram indram,

            Hva yāmi sakram puru hūtam indaram,

            Svasti no maghabā dhātvindrah

Artinya :

           

            Tuhan sebagai penolong, Tuhan sebagai penyelamat, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dipuja dengan gembira dalam setiap pemujaan,  Tuhan Maha Sakti selalu dipuja, kami memohon semoga Tuhan Yang Maha Pemurah melimpahkan  rahmat kepada kami.

            Upacara  mawinten, merupakan suatu proses dalam mewujudkan suatu tujuan  yang ingin dicapai untuk mensucikan diri secara  lahir dan batin itu, maka usaha untuk pengendalian  diri patut lebih ditingkatkan melalui berbagai upaya dan cara, seperti petunjuk yang telah diajarkan dan termuat dalam  pustaka suci silakrama berbunyi sebagai berikut :

            Adbir gātrani çudhyanti,

            Manah satyena çudhyati,

            Widya tapobhyām bhrtātma,

            Buddhi jnanena  çudhayati,

Artinya :

            Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dengan ilmu dan tapa, akan dibersihkan dengan kebijaksanaan.

            Semua rangkaian pelaksanaan upacara-upacara tersebut, dilengkapi dengan banten dan  diantarkan oleh pemimpin upacara dengan  doa, puja dan mantra, yang dimohonkan kehadapan Hyang Widhi Wasa dengan segala  manifestasinya. Demikian pula yang mawinten, melaksanakan segala rangkaian  upacara tersebut dengan gerak, ucapan dan perbuatannya secara lahir dan batin pula.

Tujuan

            Dalam upaya mengungkapkan tujuan dari pada upacara mawinten, maka terlebih dahulu ada  baiknya  dikemukakan tentang  tuntunan pustaka suci  sarasamuccaya mengenai “Tujuan hidup”, yang disebutkan dalam sloka 1.4 yaitu :

            Apan ikang dadi wwang, uttama juga ya, mmittaning mang kana, wenang ya  tumulung awaknya sangkeng sang sara, makasā dhanang subha karma, hanganing  kottamaning dadi wwang ika.

Artinya :

            Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu ia dapat menolong dirinya  dari keadaan samsara dengan jalan karma yang baik, demikian keistimewaan menjadi manusia itu.

Selanjutnya  juga sloka 6.80 yang berbunyi sebagai berikut :

            Apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya,

            Maprawrtti ta ya ring subha   subha karma,

            matangnyan ikang manah  juga prihen kahrtanya sakarang.

Artinya :

            Sebab pikiran itu namanya  sumbernya  indriya, ialah yang menggerakkan perbuatan baik buruk itu, karena itu pikirkanlah yang patut segera diusahakan pengendaliannya.

            Dengan mengutip  kedua sloka pustaka suci tersebut di atas tadi, maka menjadi jelaslah  tujuan dari pada upacara mawinten  yang dilaksanakan oleh umat Hindu sesuai dengan jenis-jenis dari pawintenan itu, yang pada dasarnya adalah untuk :

  1. Memohon kesucian  lahir dan batin melalui pengendalian  diri terhadap  hawa nafsu  yang disebabkan oleh pikiran.

  2. Memohon wara nugraha di dalam mempelajari  ilmu pengetahuan  suci.

  3. Mendidik secara  lahir dan batin, agar kehidupan manusia  makin menjadi  sempurna.

  4. Meningkatkan status manusia dari satu tingkat ke tingkat  yang lebih tinggi, secara lahir dan batin.

  5. Menjadikan manusia itu lebih  sempurna, sehingga dapat berhubungan dengan  Tuhan dan manifestasinya.

  6. Mendapatkan perlindungan secara spiritual  sehingga  luput dari segala  gangguan.

  7. Meningkatkan budi daya manusia sehingga  lebih mulia.

            Demikianlah  tujuan yang ingin dicapai  melalui upacara pawintenan. Masyarakat di Bali menyadari  sepenuhnya arti penting dan tujuan mulai upacara mawinten itu, sehingga setiap umat berusaha  untuk melaksanakanya  sesuai dengan keperluan hidupnya.

Landasan Sastra

            Adapun beberapa  lontar yang memuat tentang  upacara mawinten ataupun yang ada hubungannya antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Lontar Pangidep  hati ; isinya tentang makna  upacara  pangidep hati  sebagai langkah awal sebelum mawinten.

  2. Tutur Pemangku ; isinya tentang Dharma Pawintenan.

  3. Lontar Pawintenan ; isinya  tentang tata cara pawintenan yang  paling kecil dengan  upacara dan upakaranya.

  4. Lontar  Janme  Prakerti ; isinya ada mengutarakan  tentang tingkatan-tingkatan upacara dan  upakaranya.

  5. Lontar  Aji Bratta ; isinya  tentang pelaksanaan  pemujaan dalam upacara pawintenan serta upakara-upakaranya.

  6. Lontar  Saraswati Astawa ; isinya  tentang saat yang  baik untuk  mengadakan  pemujaan  terhadap Sri Aji Saraswati sebagai Dewa ilmu pengetahuan.

  7. Lontar Sundari Gama ; isinya antara lain tentang kesuksman   hari odalan Sanghyang Aji Saraswati dengan upacara dan  brata-bratanya.

  8. Lontar  odalan Saraswati ; isinya antara lain tentang penggunaan mantra.

            Mengacu pada pustaka-pustaka  rontal tersebut di atas, maka jenis-jenis  mawinten itu ada beberapa macam antara lain adalah :

  1. Mawinten Saraswati

  2. Mawinten Pemangku

  3. Mawinten Dalang

  4. Mawinten Tukang

  5. Mawinten Balian

  6. Mawinten Sadeg

  7. Mawinten Maha Wisesa

            Jenis  Mawinten banyak ragam, nama, serta variasinya, namun  dalam pelaksanaannya upacaranya hampir sama, karena semuanya  itu mempunyai tujuan umum yang sama, hanya saja tujuan  khususnya disesuaikan dengan nama dan jenisnya.

            Pawintenan saraswati,  tujuan khususnya  adalah untuk  mensucikan diri secara lahir dan batin dalam mempelajari pengetahuan untuk peningkatan  berilmu.

            Pawintenan Pemangku, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir dan batin dalam tugas kepemangkuan  yaitu sebagai  pendeta pura yang nantinya memimpin pelaksanaan upacara.

            Pawintenan  Dalang,  tujuan khususnya  adalah mensucikan diri secara  lahir dan batin dalam tugasnya sebagai  dalang, yang nantinya dapat menjadi lebih mampu untuk memainkan  peranan tokoh-tokoh pewayangan dalam suatu acara pentas, dimana diperlukan.

            Pawintenan Tukang, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir dan batin dalam tugas selanjutnya sebagai tukang, sesuai dengan profesinya yang akan ditekuni  dalam kehidupannya untuk memimpin  suatu pekerjaan.

            Pawintenan Balian, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir dan batin dalam tugasnya sebagai balian.

            Pawintenan  Maha Wisesa, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara  lahir dan batin terhadap fungsionaris pengurus desa adat (Bendesa Adat)

            Pawintenan Sadeg,  tujuan khususnya untuk mensucikan diri secara lahir dan batin  terhadap tugas selanjutnya sebagai  sadeg, agar dalam pengabdiannya sebagai penyambung  penyampaian pawisik atau bisikan yan diterima dari Hyang Widhi, diberikan kekuatan lahir  batin serta  tidak mengada-ada.

            Adapun  jenis upacara  pawintenan itu dapat dibedakan atas  :

1.      Pawintenan Nista :

Pawintenan ini dilaksanakan  di suatu pura yang sedang melaksanakan upacara piodalan dengan sarana upakara mempergunakan  “Pabangkit”.

2.      Pawintenan Madya (menengah)

Pawintenan ini  dilaksanakan di pura yang sedang menyelenggarakan upacara piodalan dengan sarana upakara mempergunakan “Pedudusan alit”.

3.      Pawintenan Utama

Pawintenan ini  dilaksanakan di pura yang sedang menyelenggarakan upacara  piodalan dengan sarana  upakara mempergunakan “Pedudusan Agung”.

Jalannya Upacara

            Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai  melalui upacara pawintenan ini, yaitu membersihkan dan penyucian diri secara  lahir dan batin, maka secara umum jalannya upacara  pawintenan untuk semua jenis adalah sama yaitu sebagai  berikut :

            Upacara diawasi dengan melaksanakan pembersihan lahir  seperti, menyapu, menyingkirkan alat-alat yang  tidak perlu, misalnya ada sisa-sisa upacara yang masih tertinggal dan membenarkan   letak-letak sarana yang ada pada tempat-tempat suci  dilingkungan pura, tempat pelaksanaan  upacara  Mawinten  itu.

            Setelah selesai upacara pembersihan dan penyucian diri,  dilanjutkan  dengan menstanakan Hyang Widhi Wasa, misalnya kalau  upacara pawintenan dilaksanakan di Pura Puseh, maka manifestasi Hyang Widhi  Wasa sebagai Dewa Brahma distanakan   di palinggih meru tumpang tuju (7). Kalau di pura  Desa manifestasi  Hyang Widhi  Wasa sebagai Dewa Wisnu distanakan pada palinggih  gedong dan kalau di laksanakan di Pura Dalem, maka manifestasi  Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Siwa distanakan di palinggih Gedong.

            Selesai menstanakan, barulah dilanjutkan dengan mempersembahkan  upakara-upakaranya, mulai dari  sanggah Tutuan ke hadapan Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Siwa Raditya, dengan tujuan memohon agar beliau  menjadi saksi dalam penyelenggaraan upacara, sehingga upacara  berjalan dengan tertib, lancar dan benar, sesuai dengan mantram  pemujaan yang berbunyi sebagai berikut :

            Om Aditya sya paramjoti.

            Raktu teja namostute,

            Sueta pangkaja madyasthe,

            Bhāskarāya namo namah,

            Om hrang hring sah parama siwādityāya

            Namo namah swaha.

Artinya :

            Ya Tuhan selaku Hyang Surya yang bersinar merah sinarmu yang kupuja, serta putih bersih laksana  tunjung di tengah-tengahnya, Surya maha suci, ya Tuhan selaku Siwa Raditya, awal, tengah dan akhir  sembahku adalah untukmu.

            Berikutnya  dilanjutkan dengan persiapan pelaksanaan upacara pawintenan, yang diawali dari “malukat”  yaitu  pembersihan  diri dari yang akan di winten dengan sarana air kelapa muda. Kalau tingkat  upacaranya kecil,  mempergunakan  salah satu dari  lima jenis kelapa yaitu (kelapa bulan, suda mala, gading, surya dan  mulung). Kalau tingkatan  madia mempergunakan  sebanyak 3 jenis, dan kalau tingkatan utama mempergunakan 5 jenis air kelapa tersebut.

            Selesai melukat, dilanjutkan dengan  upacara “mabyakala”. Upacara ini bertujuan untuk memberikan pengorbanan suci kepada para  bhuta kala, agar tidak menganggu jalannya upacara.

            Selesai mabyakala, dilanjutkan dengan upacara  “maprayascita”, yang dipergunakan sebagai penyucian. Kesucian yang diperoleh adalah dengan  memohon  kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh para Dewa, khususnya Dewa Nawa Sanga, yang mana hal tersebut dilukiskan dengan “lis sanjata”.

            Selesai  meprayas citta, dilanjutkan dengan upacara “mesakapan”, yaitu perkawinan dengan profesinya yang akan ditekuni dan agar dilaksanakan secara lahir dan batin.

            Selesai masakapan, dilanjutkan  dengan upacara “Padudusan”. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan diri yang telah dibersihkan melalui malukat,  mabyakala, mprayascitta dan masakapan.

            Selesai upacara “padudusan”, dilanjutkan dengan upacara “merajah”, yang  bertujuan untuk mencapai  tingkatan yang  disebut dalam bahasa Inggris “lotus”, artinya bunga teratai atau sunyata. Alat-alat yang digunakan untuk merajah adalah berupa  sirih dan madu, yang dirajahkan pada :

-          diantara  kedua kening dengan aksara suci  Yang.

-          di dada  dengan aksara suci Dang

-          di kedua bahu dengan aksara suci Bang

-          di tunggir dengan aksara Sanga

-          di telapak tangan dengan aksara Tang

-          di tengah lidah dengan aksara suci Ing

-          di ujung lidah dengan aksara  Ong.

            Selelai merajah, pendeta menulisi pinang dengan aksara suci Ang, Ung, Mang dan pada lekesan sirih dengan aksara Ya, Ra, La, Wa dan setelah itu dimantrai, lalu diberikan kepada yang diwinten untuk dimakan, yang mengandung  simbol bahwa  ilmu pengetahuan sudah masuk ke dalam jiwanya.

            Selanjutnya  setelah  rangkaian upacara  merajah itu selesai, dilaksanakan  upacara “mesesolahan”. Tujuan upacara  mesesolahan adalah untuk memancing sifat-sifat  Tri Guna, agar bangkit dan mudah dibersihkan serta disucikan  noda-noda dan kotoran-kotoran yang masih ada dalam diri orang yang diwinten itu.

            Setelah selesai upacara mesolahan, dilanjutkan dengan  upacara “mejaya-jaya”, yaitu bertujuan menyatakan rasa syukur kehadapan  Hyang Widhi, karena telah dapat dilaksanakan  dengan baik.

            Setelah selesai mejaya-jaya dilanjutkan dengan  memasang “selimpet”, setelah itu dilanjutkan dengan memasang “Suro Wastu” di kepala, ini  merupakan  simbolis anugraha dari Hyang Widhi Wasa, telah mensucikan yang di winten itu secara lahir dan batin.

            Upacara selanjutnya adalah sembahyang. Persembahyangan dalam upacara mawinten ini, mempergunakan sarana  “kwangen” dengan sesari uang kepeng 11 buah, yang ditunjukkan kepada 9 Dewa sebagai wujud Dewi Saraswati yang menguasai  9 penjuru mata angin (Nawa Dewata).

            Setelah upacara persembahyangan berakhir dilanjutkan dengan upacara “matirtha”, yang bertujuan untuk memohon  air suci / tirtha  kehadapan  Hyang Widhi Wasa.

            Setelah acara matirtha  dan mabija itu selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara “natab”, memakai sarana upakara  yang bernama “sesayut”, yang  bermaksud  untuk mengembalikan para bhuta yang ada menganggu ke tempat asalnya  semula, agar yang diwinten itu tetap bersih dan suci.

            Rangkaian  upacara selanjutnya adalah “Mapedamel”,  yaitu dengan memohon sarana upacara berupa “Dodol madu parka”, untuk dimakan.

            Setelah semua rangkaian upacara itu selesai, maka untuk menenangkan dan menghayati semua makna dan tujuan dari pelaksanaan  tersebut, maka dilanjutkan dengan pelaksanaan  upacara “brata”, yaitu tidak makan, minum dan tidur dari matahari  terbit  hingga terbenam. Ini bermakna  untuk mengendalikan diri terhadap pikiran, perkataan dan perbuatan, agar  mengarah pada hal-hal yang bersifat suci.

            Selesai melaksanakan upacara brata pawintenan, diakhiri dengan upacara “penyambutan”. Upacara ini merupakan rangkaian terakhir  dari pelaksanaan upacara mawinten. Tujuan dari  upacara penyambutan ini untuk memisahkan statusnya menjadi  orang suci serta kemudian berwenang  melaksanakan “sasana kepemangkuan”, yaitu  menjadi perantara antara umat dengan Hyang Widhi  atau manifestasinya, melaksanakan  rangkaian  upacara di suatu pura atau tempat suci, melalui permohonannya.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >