Tutup
 
 
 
 
 
 

BALI MEDITATION & YOGA SITE - TUNTUNAN MEDITASI ONLINE - CAKRA - KUNDALINI YOGA -   JNANA YOGA - AURA

Top Panel
Horoscope
Top Panel

Butha Yajna Cetak E-mail

Memberikan persembahan atau yajna ditujukan  kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan  pencipta alam semesta beserta segenap isinya, melainkan juga untuk semua ciptaanNya termasuk  kehadapan makhluk bawahan dan bhuta kala.  Yajna yang ditujukan kehadapanpara bhuta ini disebut dengan bhuta yajna. Makhluk bawahan dan juga  para bhuta kala merupakan ciptaan Tuhan, semua yang ada di dunia ini merupakan  ciptaanNya. Terhadap ciptaanNya  itu umat Hindu wajib memberikan persembahan yang tulus ikhlas  sesuai dengan kemampuannya.

Melalui sarana upakara atau sajen umat Hindu ingin menghormati  dan memberikan persembahan suci terhadap bhuta kala. dengan beryajna  berarti pula memberikan penghormatan, selain itu  melalui yajna ingin meberikan pengorbanan serta penyupatan terhadap  makhluk hidup. Pelaksanaan  bhuta yajna berkaitan  dengan pelaksanaan  yajna yang lainnya dalam panca yajna. Pelaksanaan bhuta yajna memiliki tingkatan, dari yang  paling kecil, tingkatan menengah sampai dengan tingkatan yang paling besar atau dalam istilah  bahasa Bali disebut  dengan  tingkatan alit, tingkatan madya dan tingkatan  utama. Namun dalam  pelaksanaannya disesuaikan  dengan jenis yajna yang dilaksanakan, dan biasanya  dilaksanakan dalam waktu sehari-hari atau nitya karma maupun dalam waktu-waktu tertentu atau naimitika karma.

                  Pada dasarnya bahwa pelaksanaan bhuta yajna memiliki sifat  kebersamaan  dengan jenis pengorbanan  atau yajna yang lainnya baik          Dewa yajna, Rsi yajna, Pitra yajna, Manusa yajna, Bhuta yajna, maupun  yajna yang lainnya yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Apalagi yang pelaksanaannya  khusus untuk jenis-jenis bhuta yajna itu sendiri juga mempunyai rangkaian dengan yajna yang satu dengan yang lainnya.

                  Apabila kita  memperhatikan hakikat dari pelaksanaan bhuta yajna atau pecaruan (caru) yaitu untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan diantara semua kekuatan alam di dunia ini. Dengan pelaksanaan bhuta yajna ini diupayakan  adanya kestabilan dan keharmonisan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidak diharapkan adanya gangguan ataupun godaan yang mengganggu kehidupan di alam  semesta ini. Dengan tumbuhnya  suasana nyaman dan tentram, tentunya tujuan hidup manusia menjadi terwujud yakni mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan yang kekal dan abadi, yang di dalam ajaran agama Hindu disebut Moksartham  jagadhita ya ca iti dharma.

                  Semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa atau Hyang Widhi. Diantara ciptaan Tuhan maka manusia merupakan  ciptaanNya yang paling sempurna, karena manusia dapat berbuat, berkata-kata dan memiliki pikiran atau dengan  kata lain manusia memiliki unsur Tri Pramana yakni  bayu, sabda dan idep. Dengan  kesempurnaannya inilah  manusia wajib  menghormati dan menghargai semua ciptaan Tuhan, sebagai mana ada yang ditegaskan dalam kitab suci Chandogya Upanisad, 3.14.1, ada menegaskan dalam  slokanya yang  berbunyi “Sarwa idam khalu Brahman”, yang maksudnya  yaitu segala yang ada ini tidak lain  berasal dari pada Brahman.

                  Dari kutipan  sloka di atas bahwa makna  yang terkandung  didalamnya  adalah di mana Tuhan atau  Hyang Widhi itu maha kuasa dan maha pencipta, Tuhan dapat  menciptakan  segala-galanya  yang ada di dunia ini. Ciptaan itu seperti  manusia, binatang atau hewan, tumbuh-tumbuhan, bumi, bulan, matahari, bintang, benda-benda yang  besar, benda-benda yang kecil  yang nampak  dan yang tidak  tampak oleh mata, benda halus, termasuk juga kekuatan alam yang  dapat  menguntungkan kehidupan  manusia ini,  makhluk-makhluk lainnya  yang dapat menganggu kehidupan manusia di dunia ini, seperti  para bhuta kala, jin, setan serta yang lainnya. Terhadap kesemuanya itu manusia wajib menghormatinya dan memberikan persembahan. Jadi manusia  wajib pula melaksanakan upacara keagamaan yang ditujukan  kehadapan makhluk bawahan atau dengan para butha kala. Kewajiban umat Hindu untuk melaksanakan atau melakukan  persembahan (yajna) yang jumlahnya ada lima macam yajna, dan ada ditegaskan dalam kitab suci Manawadharmasastra, IV,21, yang bunyinya sebagai berikut :

                  “Rsi yajnam dewa yajnam,

                  bhuta yajnam ca sarwada,

                  nryajnam pitra yajnam ca,

                  yatha sakti na hapayet”

      yang artinya :

                  Hendaknya  jangan sampai lupa, jika mampu laksanakanlah Rsi yajna, dewa yajna, bhuta yajna, manusa yajna, dan pitra yajna.

      Menyimak  makna sloka  di atas, tentu kewajiban umat untuk beryajna tertuju pada seluruh aspek kehidupan di dunia ini, juga halnya  melaksanakan upacara bhuta yajna merupakan usaha yang  mulia dan terhormat. Melalui  pelaksanaan  bhuta yajna terselip makna untuk menyelamatkan dan memperhatikan kekuatan alam semesta termasuk  para bhuta kala walaupun dalam tingkat kedudukannya memang lebih rendah dari manusia. Para bhuta dan kala perlu diberikan persembahan demi untuk keselamatan bersama.

                  Jangankan para bhuta dan kala  itu dikatakan suka  menganggu kehidupan ini, yang dikatakan memiliki suatu sifat pengganggu, pemarah, pengacau dan yang lainnya, maka manusia pun  kalau kita sadari juga  sama memiliki sifat-sifat seperti bhuta dan kala. Menangnya manusia memiliki kelebihan akal dan pikiran, namun akal dan pikirannya terkadang sering kacau balau,  sering bingung, sering marah, sering mengamuk, dan sebagainya, Semua sifat itu tiada lain  sebenarnya juga merupakan sifat dari bhuta kala.

                  Di dalam  kitab Ramayana ada ditegaskan “ragadi musuh maparo rehati tonggawannya tan madoh ring awak”, yang maksudnya bahwa musuh itu  tidak jauh  tempatnya yaitu  di dalam hati atau di dalam diri manusia itu sendiri. Di samping itu  juga ditegaskan dalam pelajaran agama yaitu  mengenai Sad Ripu, bahwa  pada diri manusia  terdapat  enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat manusia itu sendiri, yang antara lain : kama artinya  sifat penuh nafsu indrya, loba artinya sifat loba dan serakah,  krodha artinya  sifat kejam dan pemarah,  madha adalah  sifat mabuk-mabukan dan kegila-gilaan, moha adalah sifat bingung dan angkuh sedangkan matsarya adalah sifat dengki dan iri hati.

                  Musuh yang ada di dalam diri manusia disebut dengan sad ripu, musuh dalam diri itu memang sangat ganas dan kejam sekali dan dapat menjerumuskan diri sendiri. Dalam diri manusia  juga memiliki sifat yang dapat menggelapkan jalan hidup kita yang dikenal dengan sapta timira dan banyak lagi yang  lainnya. Untuk itu bagaimana  manusia itu dapat mengendalikannya, agar tidak sampai merusak dirinya sendiri. Salah satu usaha manusia untuk mengupayakannya adalah  dengan melaksanakan upacara  bhuta yajna. Upacara bhuta yajna ini memiliki makna  spiritual yang merupakan usaha untuk menghormati, menyelamatkan, dan meningkatkan derajat kehidupan  para bhuta kala itu sendiri.

                  Lebih lanjut  mengenai pengertian bhuta yajna dapat dilihat  di dalam kitab suci Manawadharmasastra, bab III sloka 70 yang berbunyi sebagai berikut :

                  “Adhyapanam  brahma yajnah,

                  pitr yajnastu tarpanam,

                  homo daiwo  balibhaurto

                  nr yajno tithi pujanam”.

      yang artinya :

                  Mengajar dan belajar adalah  yajna bagi Brahman, menghaturkan tarpana  dan air suci adalah yajna untuk leluhur, menghaturkan minyak dan susu adalah yajna untuk para Dewa, mempersembahkan  Bali adalah yajna  untuk para  bhuta dan penerimaan tamu dengan ramah adalah yajna untuk manusia.

                  Dari kutipan sloka  di atas terdapat makna  pelaksanaan bhuta yajna yakni dengan mempersembahkan Bali adalah yajna untuk  bhuta.  Dari sloka  di atas terdapat  makna Bali, sesungguhnya  adalah pelaksanaan untuk para bhuta. Jadi Bali merupakan  nama yajna  untuk dipersembahkan  kehadapan para  bhuta kala.

                  Kemudian  kalau kita perhatikan kitab Agastya Parwa ada  pula menegaskan  tentang makna  upacara bhuta yajna yang menyebutnya  dengan istilah  walikrama, yang antara lain ada dinyatakan :

                  “Tawur muang  kapujan ing tuwuh pamungwan kunda wulan makadi walikrama, ekadasadewata mandala ya bhuta yajna ngaranya…”.

      Dalam kutipan  tersebut mengandung  arti : Bhuta  yajna adalah  tawur (caru) dan selamatan kepada segala tumbuh-tumbuhan  persembahan dalam periuk bulan, seperti Balikrama dan persembahan   di atas  altar / lapangan kepada sebelas  dewata  atau ekadasa dewata itu dinamakan bhuta yajna. Apa yang  dinyatakan dalam kutipan di atas  itu merupakan wujud  pelaksanaan dari pada upacara  bhuta yajna yaitu dengan  mempersembahkan tawur atau caru sebagai upacara selamatan kepada para bhuta, sebagimana yang ditegaskan  di atas dinamakan Balikrama atau Bhuta yajna. Juga kalau kita perhatikan kitab suci Sarasamusccaya ada pula mengatakan  tentang bhuta yajna, yang bunyinya :

                  “Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe, asubhesu sama

                  vistam subheve va va karayet” (Sarasamuccaya, 2).

      yang artinya :

                  Diantara semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun yang buruk, leburlah kedalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu ; demikianlah  gunanya atau phalanya menjadi manusia.

     

               Dengan  memperhatikan sloka-sloka tersebut di atas bahwa manusia juga termasuk bhuta, namun manusia mempunyai kesempatan yang mulia untuk berbuat kebaikan dan berbuat sesuatu yang dapat  menyelamatkan bhuta atau makhluk-makhluk yang lainnya dengan pelaksanaan upacara  bhuta yajna. Tetapi kalau manusia itu  tidak mempergunakan kesempatannya yang baik itu untuk  beramal kebaikan atau  selalu berbuat  buruk, maka  tidak jauh berbeda bahwa  manusia  memiliki juga sifat-sifat bhuta  dan  kala atau ketamakan, yang dikenal dengan istilah asubhakarma. Oleh karena itu  lenyapkanlah  sifat  tamak atau asubhakarma itu menuju sifat subhakarma atau kebajikan yang berlandaskan dharma.

                  Dari uraian-uraian di atas upacara bhuta yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas kepada sekalian makhluk-mahluk  bawahan, baik  yang kelihatan  maupun makhluk yang tidak kelihatan untuk memelihara  kesejahteraan dan ketentraman alam semesta. Bhuta yajna merupakan  cinta kasih  terhadap sesama  makhluk hidup, baik yang nampak maupun  tidak nampak, sebagai sesama makhluk  yang erat  dengan kehidupan manusia. Upacara bhuta yajna  sebagai upacara  korban suci untuk makhluk-makhluk halus dengan harapan agar tidak mengganggu keselamatan dunia.  Atau dengan kata lain  bahwa upacara  bhuta yajna  adalah suatu  korban suci  yang bertujuan untuk  membersihkan  tempat (alam beserta isinya) dan memelihara  serta memberi “penyupatan” kepada para bhuta kala dan makhluk-makhluk yang dianggap  lebih rendah  dari manusia, seperti  peri, jin, setan, binatang dan sebagainya.

Upacara Bhuta Yajna

                  Bhuta yajna adalah yajna yang ditujukan kepada bhuta kala yang menganggu  ketentraman kehidupan manusia. Bagi masyarakat  Hindu, bhuta kala ini diyakini sebagai kekuatan-kekuatan yang bersifat  negatif yang sering  menimbulkan gangguan serta  bencana, tetapi dengan bhuta yajna maka kekuatan-kekuatan tersebut akan dapat menolong  dan melindungi kehidupan manusia.

                  Bhuta yajna  pada umumnya dapat dibagi menjadi  tiga tingkatan, yaitu upacara bhuta yajna dalam tingkatan kecil seperti segehan dan yang setingkat, upacara bhuta yajna dalam tingkatan sedang (madya) yang disebut “CARU”, dan  upacara bhuta yajna alam  tingkatan yang besar (utama).

Tujuan  Upacara Bhuta Yajna

                  Melaksanakan  upacara bhuta yajna  mengandung nilai spiritual. Adapun tujuan umat Hindu memberikan persembahan terhadap para  bhuta  dan kala serta kekuatan alam melalui upacara bhuta yajna adalah :

1.      Untuk memelihara kesejahteraan dan ketentraman alam semesta.

2.      Sebagai wujud rasa terima kasih kehadapan Hyang Widhi, para dewa, leluhur, dan unsur kekuatan  alam yang   secara filosofis  menggunakan  tumbuh-tumbuhan serta  binatang / hewan dalam upacara  bhuta yajna  yang bertujuan untuk pembebasan  dan peningkatan terhadap  jiwanya.

3.      Untuk mengusir roh-roh jahat dan kekuatan alam yang menganggu kehidupan manusia.

4.      Memberikan kesenangan dan kenyamanan terhadap  roh-roh  para buta dan kala, agar tidak menganggu atau setidak-tidaknya memberikan jalan yang benar dan kelancaran  pelaksanaan upacara tersebut.

5.      Untuk memohon kehadapan Sanghyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, agar beliau memberikan kekuatan  serta mengatur ciptaanNya, sehingga tidak menimbulkan bencana atau malapetaka .

6.      Untuk  pembersihan alam semesta, bhuta kala dan makhluk, agar terhindar dari pengaruh atau sifat buruk yang mengganggu manusia dan sebaliknya agar kekuatan alam itu dapat  melindunginya.

            Demikianlah beberapa pengharapan  yang berkaitan dengan  pelaksanaan upacara bhuta yajna, yang merupakan  swadharma umat Hindu sebagai usaha penyelamatan  dan penyucian  demi terciptanya keharmonisan dan juga untuk tegaknya kebenaran dan dharma. Dan dalam penulisan makalah yang sederhana ini, penulis membatasi tulisannya hanya berkisar pada masalah pecaruan pada upacara Piodalan di Pura Puseh (sesuai dengan judulnya).

Sumber Ajaran

     Bhuta yajna, korban kepada Bhutakala, adalah bersumber dari ajaran keagamaan Tantrayana. Tantrayana  termasuk Sekta Sakta atau Saktiisme, dari mazab Siva (Siva Paksa). Disebut Saktiisme, karena yang  dijadikan obyek persembahannya adalah Sakti. Sakti dilukiskan  sebagai Dewi, sumber kekuatan atau tenaga. Sakti adalah simbol  dari bala atau kekuatan (Sakti is the symbol of bala or strength) (Das Gupta, 1955 : 100). Dalam sisi lain Sakti juga disamakan dengan energi atau kala (This sakti or energi is also regarded as “Kala” or time). (Das Gupta, ibid).

                  Dengan demikian Saktiisme sama dengan Kalaisme. Sekte  keagamaan “Kalaisme” disebut juga “Kalamukha” atau “Kalikas” dan disebut juga “Kapalikas”. Sekte ini  sejenis dengan aliran “Bhairawa” atau Tantrayana kiri. Pengikut dari  sekte ini di India kebanyakan dari suku  Dravida, penduduk asli India, dari pendekatan Anthropologi budaya, kepercayaan sejenis ini disebut Dynamisme.

                  Oleh karena pengikut sekte ini  kebanyakan penduduk asli India, maka jadi juga disebut “Sudra kapalikas” . Pengikut  ini tidak percaya  kepada sistem “kasta”. Dan pengikut ini  selalu melaksanakan “Panca Ma” sebagai bagian  dari pelaksanaan ritual mereka. Panca Ma itu adalah : Makan daging (Mamsa), Makan Ikan (Matsya), minum-minuman keras (Mada), Mudra (melakukan gerak tangan). Mytuna (mengadakan  hubungan cinta yang berlebih-lebihan). Ajaran  ini hanya bersifat  pemuasan nafsu dan dikucilkan  dari Veda. Aliran ini memuja Devi sebagai  Ibu,  baik Bhairavi, Ibu Durga maupun Kali. Mereka dalah “Super matrial power”.

                   Ibu Durga atau Bhairavi inilah yang  melahirkan para Bhuta-bhuti dengan kekuatan Yoga-Nya. Perihal penciptaan ini banyak diuraikan dalam berbagai lontar yang bersifat Tantrayana di Bali.

                  Tapi dalam Dharma Sastra, para golongan  Bhutakala ini, yang termasuk golongan Sadya adalah diciptakan oleh Brahman. Golongan Sadya itu terdiri dari makhluk astral yang  tingkatannya lebih  rendah dari Dewa-dewa. Mereka mempunyai sifat bermacam-macam. Menurut  Manava Dharma Sastra III.196, golongan Sadya ini terdiri dari berbagai jenis  Daitya, Danava, Raksasa, Yaksa, Gandharva, Naga, Saparna dan Kinnara

 
Berikutnya >